Sabtu malam minggu di indramayu. Sehabis sholat isya aku, mas saeful, bapak, naila serta bude ngobrol di teras rumah. Walaupun udah malam tapi udaranya tetap panas, dan yang membuat aku gak tahan adalah nyamuk yang seliweran silih berganti. Mereka seolah-olah merayakan kedatanganku ketempat itu, mungkin sambil bersorak "mangsa baru, untuk diserbuuu!"
Sesekali bapak menertawakan aku yang sibuk nepuk-nepuk tangan, lengan dan semua anggota badan yang dihinggapi nyamuk, kemudian bapak masuk ke kamar tak lama beliau keluar lagi, kali ini bapak membawakan lotion pengusir nyamuk.
"nih neng, kasih ini biar gak di gigitin nyamuk terus.." bapak mengulurkan lotion anti nyamuk itu kepadaku.
"wah makasih pak, ngerepotin jadinya."
"ah enggak, cuma lotion doang. Disini ya gini, banyak nyamuk."
"iya ya pak, padahal tadi sebelum sholat maghrib saya mandi dulu."
"mungkin neng mandinya ada yang kurang, jadi masih dihinggapi nyamuk."
"kurang apa mas? kurang bersih maksudnya? kan tadi udah pake sabun, udah bersihlah."
"bukan, bukan sabun."
"terus apa dong?"
"kurang kembang, harusnya mandi pake air kembang baru nyamuknya pada kabur."
"iisshhh kayak lagu dangdut aja."
Semua orang tertawa dengar candaan aku dan mas saeful. Tapi tidak dengan ibu, dari tadi ibu hanya diam di ruang tengah, seperti tidak mau bergabung dengan kami. Bilangnya sih sakit kepala.
Sebenarnya kalo dibandingkan dengan ibu, bapak jauh lebih ramah terhadapku, kami diteras asik mendengarkan cerita bapak yang kerjanya sudah kemana-mana. Bapak mas saeful itu seorang mandor bangunan yang sering mengawasi para pekerja membuat gedung-gedung perkantoran, apartement dan lain-lain.
"Bapak pernah enam bulan di bandung neng, dulu bangun hotel disana. Jadi bapak bisa sedikit-sedikit bahasa sunda."
"o ya? dulu bandungnya dimana pak?"
"daerah setiabudhi neng, yang mau ke gunung perahu itu lho."
"tangkuban perahu pak." serentak aku dan mas saeful mengkoreksi kalimat bapak.
Naila dan bude tertawa lepas, mendengar kami mengkoreksi bapak.
"ciee,, mbak sama mas, kompak banget, ciee, gitu ya bude kalo sudah jodoh pasti kompakan kayak gitu." kata naila.
bude tertawa sesekali menimpali candaan kami dengan bahasa jawa yang aku nggak ngerti artinya.
Sudah hampir jam 9 malam, bude pamit pulang kerumah untuk istirahat, menyusul bapak yang masuk ke kamar. Tinggal aku, mas saeful dan naila.
"Nai, tidurnya sama mbak aja ya, di kamar yanti." bujukku ke naila
"nggak ah mbak, naila biar tidur di rumah aja."
"kamu gak takut apa?"
"ah dia sih udah kebal neng, emangnya kamu, penakut."
"iihh bukan gitu mas, kasian naila kan klo cuma tidur sendiri, dirumah yang belum jadi lagi,"
"iya nai, tidur sama mbak aja, kali ini mas ijinin, tapi nanti mas gak akan kasih ijin, karena kalo sudah nikah mbak harus tidur sama mas."
refleks aku mencubit perutnya mas saeful ketika aku mendengar kalimat itu. Dan dia hanya tertawa.
"tapi nggak enak ah mbak, nai takut ganggu tidurnya mbak."
"enggaklah, yah tidur disini aja ya."
"ayoo tidur aja disini, udah biar nanti rumah itu mas yang kunci, eh mending sekarang aja deh mas kuncinya. Mas keluar dulu ya neng, kamu disini aja bareng mbak ya Nai." mas saeful beranjak mengambil kunci rumah nai dan pergi kebelakang untuk mengunci rumah itu.
Aku dan naila kembali keruang tamu, kami duduk duduk disana sampai mas saeful kembali kerumah.
"Udah mas?" tanyaku.
"udah."
Naila menguap..
"kamu duluan tidur aja nai kalau sudah ngantuk."
Naila tersenyum sungkan.
"gak apa-apa, nanti mbak nyusul."
"iya deh mbak." naila berdiri dan berlalu masuk ke kamar yanti.
Tinggal aku berdua dengan mas saeful.
"Naila itu setiap hari tidur sendiri dirumah, emang gak khawatir apa mas?"
"Mas sudah suruh naila tempatin kamarnya mas, kalo misal dia mau tidur disini. tapi dianya gak mau. padahal kamar yanti kosong, kamar aku kosong juga. Adikku sm kakakku yang duda duda itu kan sudah gak tinggal disini."
"kenapa ya dia gak mau?"
"Gak tahu, tapi mas merasa aneh tadi pas liat kamu sama naila, kok naila sama kamu bisa langsung akrab gitu ya."
"emangnya naila gak gampang akrab gitu?"
"Biasanya suka malu gitu orangnya, shy shy cat."
"hah? apaan?"
"malu malu kucing.. hahaha."
"iisshhh,, dasar canda mulu! tapi kalo menurutku enggak gitu ah, dia orangnya riang kok. Tadi aja ngobrol banyak sama aku."
"ngobrol banyak?"
"hu'um, tadi siang."
"ngobrolin apa aja?"
"ya cita-citanya dia yang mau jadi TKW, atau kalo menurutku sih bukan cita-cita ya, malah kayak sudah mindsetnya dia. Kalau sudah lulus daftar ke PJTKI atau agen penyaluran TKW lalu jadi TKW, sama kayak ibunya."
"hu'um ,, kasian ya.."
"emang kamu gak ada minat buat bantuin dia biaya kuliah gitu?"
mendengar itu mas saeful tersenyum
"Neng, tanggungan mas sudah banyak, kapan mas bisa nabungnya? yang akan dihadapi mas ini sekarang adalah biaya kuliahnya yanti, uang sakunya juga, belum lagi biaya kost, dan uang bulanan untuk ibu disini, tambah lagi ini rumah belum sepenuhnya selesai, yah mungkin nanti kalau rumah selesai, kalo yanti juga udah sattle kuliahnya, lagian kan Naila masih kelas dua, masih ada waktu buat mas pikirin kedepannya, karena jujur kalo mesti kayak ibunya, mas juga gak tega."
"Mas.."
"ya cinta?"
"Seandainya nanti kamu kena PHK, terus aku juga gak kerja, kamu mau nyuruh aku jadi TKW juga?"
Tertawa.
"Kamu kok mikir ke situ sih? Ya enggaklah, kalaupun nanti mas kena PHK atau mas dipindah kerja ke daerah lain, mas akan bawa kamu kemana pun mas pergi, gak akan mas tinggalin, apalagi ditinggal berjauhan, enggak. Tempat kamu itu dideket mas, disini, disampingnya mas, gak boleh kemana-mana."Mas saeful merangkul bahuku, dan aku bersandar dibahunya.
"kamu kepikiran apa yang bapak bilang tadi soal iparku yang TKW ya?"
aku menjawabnya dengan anggukan.
"Jangan khawatir neng, aku bertekad untuk merubah nasib. Di indonesia ini masih banyak kok pekerjaan kalau kita mau berusaha cari, kita pun bisa kok jadi pengusaha kalau kita mau berusaha, jadi mas rasa gak perlulah sampai harus pergi keluar hanya untuk cari rezeki. Kamu pun kalau nanti misal sudah menikah mau stay aja di rumah jadi ibu rumah tangga, mas lebih bersyukur lagi. Tapi kalau tetep mau berkarya ya mas gak keberatan juga."
Kami sama-sama terdiam beberapa saat, sampai mas saeful menyuruhku tidur.
"udah malam neng, tidur sana. Mas juga udah ngantuk, mas periksa dulu pintu sama jendela, takut ada yang belum dikunci."
"ya udah, tidur ya mas.. see you tomorrow."
"will see you soon dear. Have a nice dream."
Pukul 2.15 dini hari, aku terbangun gara-gara ada suara teriak-teriak entah dari mana. Bulu kudukku berdiri, aku takut, keringat dingin membasahi keningku. Itu suara cowok, dia teriak "Allahu Akbar!!, Astagfirulloh hal adzim, tolooooongg." berulang-ulang, seperti dia sedang dikejar sesuatu, lalu minta tolong. Aku yang takut, membangunkan Naila yang tidur persis disampingku.
"Nai, bangun.. itu suara apa? Nai bangun nai, please!" Aku berusaha membangunkan naila, tapi sepertinya naila tidur cukup nyenyak. Dia seperti tidak terganggu suara itu, seperti tidak mendengar, apa jangan-jangan cuma aku saja yang mendengar suara itu?
"Nai, tolong dong nai, banguunnnn pleaaassseeee..!!" aku mulai panik,badannya naila aku goyang-goyang agak keras, biar dia bangun."
"Kenapa mbak?" suara naila parau.
"Ssttt,, kamu denger itu? itu suara apa? aku takut Nai" aku bertanya sambil menggenggam lengan naila.
Naila tampak mengamati sekitar, kemudian dia tersenyum.
"Kalo bukan pakde yang ngigau, berarti itu suara mas saeful yang ngingau."
"Hah?! ngigau?" OMG!! Unbelievable, kalau memang benar itu yang ngigau mas saeful, berarti tiap malem nanti siap-siap deh aku kebangun gara-gara kebiasaannya itu.
Aku jadi teringat mama, waktu itu mas saeful nginep dirumah, dia tidur di rumah sebelah, bukan rumah utama, sementara aku dan mama tidur dirumah utama. Mamaku setiap hari bangun jam 2 pagi untuk sholat malam. Waktu itu mama bilang, kalo mama samar-samar mendengar ada yang teriak-teriak minta tolong, awalnya mama pikir mungkin papa yang lagi mimpi tapi pas liat papa tidur nyenyak itu mematahkan sangkaan awalnya. Jangan-jangan memang benar, mas saeful yang ngigau waktu nginep di rumah.
Setelah suara itu reda dengan sendirinya, aku kembali tertidur. Jam 04.45 pagi, aku tebangun. Rupanya Naila udah bangun duluan. Seperti telah menjadi kebiasaan, setiap bangun subuh-subuh aku langsung mandi, kemudian sholat subuh. Selesai sholat, aku kemudian mencari keberadaan naila di dapur, tapi yang kutemukan hanya ibu.
"Mau minum apa neng? biar nanti ibu bikinkan."
"Gak usah bu, biar saya bikin sendiri. Kepalanya sudah gak sakit lagi bu?'
"udah sembuh, semalem minum obat langsung tidur. Nih kalo mau bikin kopi atau teh, ada di rak sini ya, itu toples-toplesnya, tapi disini gak ada susu."
"iya bu gak apa-apa, o iya Naila kemana ya bu? pagi-pagi udah ngilang aja."
"Naila lagi dibelakang, ngerendem cucian."
"Oohh.."
"Soalnya nanti Yanti bawa baju kotor, jemurannya kepenuhan, jadi harus dicuci sebagian dulu sambil nunggu yang lain kering, baru cuci baju yanti."
"Naila yang cuciin bu?"
"Iya kadang-kadang, yanti itu gak biasa nyuci, biasa ibu yang cuciin bajunya yanti."
"oohh.."
"Ibu lagi bikin apa?"
"Lagi mau bikin sayur sop."
"Saya bantuin ya bu."
"Gak usah neng, kamu duduk aja."
"Gak apa-apa bu, biar saya bantu motong sayurnya ya bu."
"Bisa masak neng?"
Mampus kan?! Ini pertanyaan yang bikin aku horror. Aku gak bisa masak, bukan gak bisa sama sekali, tetapi gak bisa karena tidak terbiasa masuk dapur. Masak pun harus ditemani contekan resep, hasilnya seperti apa? Papa bilang rasanya aneh.
"ehm aaku gak terlalu pandai masak bu." Jawabku terbata-bata.
"lah terus kalo makan gimana?"
"beli yang sudah jadi bu, karena pulang kerja udah capek duluan kalo mau masak, maunya tinggal makan." jawabku sambil nyengir, sementara ibu tersenyum sinis.
Pukul 6 pagi, kok aku belum liat mas saeful ya..
"Neng, sudah minum belum? Sarapan?" bapak menghampiri kami.
"Ini sarapannya baru jadi pak." Sahut ibu
"O ya, ini yang masak neng ya?"
"Bukan pak, cuma bantuin ibu motong sayur aja tadi." Jawabku malu-malu.
"Tangan halus kayak gitu keliatan toh pak jarang masuk dapur."
DEG... Aku bener-bener dihabisi ibu dua hari itu. Aku hanya tersenyum saja, walau didalam hati menjerit.
"Epul mana ya? udah bangun belum?"
"Belum lihat dari tadi pak."
"Wah jangan-jangan belum bangun. Coba neng tolong gedor pintunya epul."
Aku segera menuju ke kamar mas saeful, rupanya pintunya terbuka dan ternyata dia masih tidur.
"Mas, bangunn.. iihhh gak sholat subuh apa ya? mas, banguuunn!!!"
"Apa neng?"
"Udah siang, udah jam 6 ini, kamu gak sholat subuh?"
"iya bentar lagi."
"Mas, aku boleh tanya?"
"Apa?" Sambil merem.
"Tadi malem kamu mimpi apa? kok sampe teriak-teriak minta tolong?"
"hah? siapa?"
"kamu..!!"
"masa sih neng?"
"iya, aku ketakutan tau! tanya naila, dia sampe aku bangunin tidurnya."
"Gak tahu, tadi malem mas gak mimpi apa-apa."
"iihhh,, dasar!! udah cepet bangun sana,, mu sholat jam berapa?"
"iya bentar lagi.."
"astagfirulloh, udah siang, cepetan sholat."
"iya iya aahhh.." bangkit dan berlalu
Pagi itu aku kesal, kesal karena dihabisin ibu, kesal karena ternyata calon imamku sholat subuhnya kesiangan, kesel karena ternyata aku bukan calon mantu idaman.
Pagi itu rusak sudah moodku, rasanya pengen secepatnya pulang ke bandung. Pukul 7.30 pagi, selesai sarapan ada yang datang, rupanya itu yanti.
Kami dikenalkan ibu, bersalaman canggung, untuk kemudian masuk ke kamar ibunya. Yanti tidak seperti Naila yang ramah, dia lebih tertutup, dan sepertinya akan susah beradaptasi dengan sosok seperti yanti ini.
Saat keluar kamar ibu, yanti cuma memberikan tas yang berisi pakaian kotor kepada naila untuk dicucikan, iya.. Naila yang cuci bajunya yanti setiap minggunya.
Kenapa waktu seakan bergerak lambat disini? keretaku berangkat jam 11.15, dan sekarang baru jam 8 pagi. Baju-baju sudah aku rapihkan dan dimasukan ke tas, tinggal pergi.
Tiba-tiba mas Saeful datang, dia ajak aku ke rumah temannya dibelakang, daripada aku diem dirumah mending aku ikut mas saeful, males juga aku berhadapan sama ibu.
Ternyata itu temannya mas saeful yang semalem, mereka ngajakin mas saeful main tennis meja. Lumayanlah killing time, jadi nunggu pulang juga gak terlalu kerasa kalo liatin dia main tennis meja, tahu-tahu udah jam 9.30 aja. Kami pun berpamitan sama teman-temannya mas saeful.
Sampe rumah, aku segera bersiap untuk pulang. Rupanya sesuai janji bapak kemaren, bapak sudah siapkan dua kardus "oleh-oleh", yang satu untukku dan keluarga, yang satu lagi untuk kakaknya mas saeful yang di tangerang.
Pukul 10 pagi, kami sudah siap berangkat.. Bapak tanya apa aku pulang ke bandung sendiri atau diantarkan dahulu oleh mas saeful. kemudian mas saeful menjawab, mau mengantarkanku terlebih dahulu ke bandung sebelum akhirnya pulang ke tangerang. Kemudian ibu menghampiri mas saeful dan berbisik, entah apa yang diucapkan beliau, disusul dengan anggukan mas saeful. Kami pun berpamitan sama ibu, bapak, naila dan yanti. Lagi adiknya mas saeful mengantar kami dengan dua motor, satu dibawa adiknya mas saeful dan temannya, dan satu motor lagi dipakai aku dan mas saeful. Sampai stasiun, mas saeful berpamitan dengan adiknya, sementara aku cuma bersalaman, bahkan sampai hari ini pun aku gak tahu siapa namanya,, mas saeful jarang sekali menceritakan adik-adiknya, kecuali yanti.
Waktu keberangkatan telah tiba, kami naik ke gerbong kereta dan kembali duduk persis di seat yang sama ketika kami berangkat kemaren. Sungguh kebetulan sekali.
Tidak seperti biasanya , kali ini mas saeful banyak diamnya. Aku merasakan ada hal yang aneh, apalagi ketika aku melihat ibu berbisik sebelum kami berangkat, it makes me corius bin kepo. Tapi sepertinya mas saeful sedang gak mood untuk mengobrol, ya sudah.. toh moodku udah jelek dari semenjak ketemu ibu.
Segera setelah kereta meluncur di rel nya, aku tenggelam dalam lamunanku.. sambil menikmati pemandangan sawah sejauh mata memandang.
"Heh!! anak gadis gak boleh keseringan ngelamun lho."
Aku tersadar dan menoleh ke mas saeful. Kereta yang kami tumpangi sepi penumpang, sehingga seat didepan kami kosong, hanya ada beberapa orang di gerbong yang kami tumpangi siang itu.
"Kamu ngelamunin apa sih neng?"
"Gak ada, mas sendiri tadi ngelamunin apa?"
"Siapa bilang mas melamun? emang mas melamun gitu?"
"Iya, mas melamun. Tadinya mau diajakin ngobrol, tapi liat mood kamu kayak yang lagi bete jadi aku urungkan deh ngajakin ngobrolnya."
"Mau ngobrol apa sih emangnya?"
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa aja boleh neng."
"Tadi dirumah, ibu bisik-bisik sama kamu.. ibu bilang apa?"
"kepo!"
"Iihhh,, ya jelaslah aku kepo, orang bisik-bisiknya didepan aku. Katanya dosa tau bisik-bisik di depan orang, nanti bisa bikin orang itu tersindir atau muncul prasangka yang gak baik."
"Masa sih?"
"Iya! ada di al-qur'an, mau bukti?" Kemudian aku membuka aplikasi al-quran di handphone dan membacakan kepada mas saeful arti dari sebuah ayat.
"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan Kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal." (QS. Al-Mujadilah:10)
Mas saeful terdiam beberapa saat..
"Tumben kamu pinter .. Tadi sebelum kita pulang, ibu sempet ngobrol dulu sama mas, ibu tanya kenapa mas mau nikah cepet-cepet, apa gak mau beli rumah dulu. Kemudian mas bilang kalo mas udah kepengen nikah, udah pengen hidup tentram, udah cukup juga umurnya. ya akhirnya ibu mau terima kata-kata mas. Kemudian tadi ibu berbisik ke mas, katanya jangan sering-sering maen ke bandung."
"Kok gitu?"
"Ya mungkin ibu gak kepengen nanti keluarga kamu kena fitnah karena sering kedatengan laki-laki sebelum setatusnya jelas gitu lho."
"Tapi kan status kita jelas kan?! mas kita udah mau menikah. Lagian juga kamu tidur dirumah sebelah bareng adikku si aa,, apanya yang jadi fitnah?"
"Iya iya,, mas iyain aja apa kata ibu."
Aku sewot denger cerita mas saeful barusan, aku sengaja pindah seat karena aku jengkel sama ibunya mas saeful. Mungkin mas saeful tidak enak hati melihat ekspresiku yang cemberut karena kesal.
Kami tidak saling berbicara untuk beberapa saat, dari semenjak berkenalan sampai hari itu, baru kali itulah aku dan mas saeful bersitegang, walaupun boleh dibilang skalanya kecil. Kami belum pernah bertengkar, semuanya adem ayem sampai akhirnya aku datang kerumah orangtuanya.
Waktu kereta sampe di daerah purwakarta, handphone mas saeful berbunyi, kemudian dia tersenyum. Dia pindah duduknya dekat dengan aku, kemudian dia menunjukan handphone nya sambil membujuk aku supaya gak marah lagi.
"Liat deh, ini rumah di tangerang, daerah babakan, katanya mau di kontrakin, kayaknya cocok buat kita ya?! mungil. Gini aja, mas kan dilarang sama ibu untuk sering-sering ke bandung. Gimana kalo neng aja yang ke Tangerang? kita liat rumah ini yuk? Minggu depan yah? mau yah? mau kan? mau dong?" Mas saeful merayu.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Udah yah, jangan ngambek lagi. Mas gak betah liat kamu bete terus kayak gitu. O'iya sekalian hari sabtu kan temen mas ada yang Nikah, nanti neng temenin mas ke nikahannya ya, sehabis dari acara nikahan kita liat rumah ini. Semoga cocok."
"Aamiin.." Aku mengaminkan kata-kata mas saeful.
Jam 2.08 kereta kami tiba di stasiun bandung, kami bergegas turun dan mencari mobil mas saeful yang diparkir di depan stasiun. Saat di mobil rasa kesalku belum sepenuhnya hilang, aku memilih tidur sepanjang perjalanan dari stasiun ke kost-an. Sampai akhirnya dia membangunkan aku karena kami sudah tiba di kost-an. Mas saeful menurunkan kardus yang berisi oleh-oleh buah mangga dari bapak, isinya banyak sekali. Aku naik ke atas dan membuka kunci ruang paviliun pondok pak ondo, tempat kost-ku. Sambil mas saeful beristirahat tiduran di karpet, aku membuka kardus oleh-oleh dari bapak, aku bawa beberapa buah mangga untuk aku berikan kepada keluarga ibu dan bapak di bawah.
"Itu mau dibawa kemana neng?" Mas saeful bangun dan kemudian duduk bersila.
"Mau kasih ke ibu di bawah, ini kebanyakan kalo untuk mama papa sih."
"Oohh, iya.." Mas saeful tersenyum.
Aku turun ke bawah, kerumah ibu. mengetuk rumahnya, ternyata ada anak-anaknya ibu sedang berkumpul.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam,, eh neng, masuk." ibu membukakan pintu dan menyuruhku masuk.
"Disini aja bu, ini ada sedikit oleh-oleh bu dari indramayu."
"Wah, meuni ngarerepot.. ini buah mangga indramayu?"
"iya bu."
"Oh eneng habis dari indramayu, habis liburan?"
"Enggak bu, habis dari rumahnya orangtua mas saeful."
"oh mas itu teh calonnya eneng?"
"hehe insyaAllah bu, pidu'ana."
"Aamiin.. Sok ku ibu di do'ain biar lancar sampe hari-H na nya. Hatur nuhun atuh neng, ini oleh-olehnya ditampi ku ibu, Jazakillah khoir nya geulis."
"iya bu, sami-sami. Kalo gitu, saya ke atas lagi ya bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"udah neng?"
"udah. Mas mau minum apa?"
"Bikinin mas kopi deh, biar nggak ngantuk nanti diperjalanan."
"laper nggak? mau dibuatin makanan nggak?"
"emang ada makanan?"
"ada mie sih, sama ada telor di kulkas."
"nggak deh, masih kenyang sama nasi goreng di kereta tadi. Kopi aja ya."
"oke!"
"Makasih ya cinta. Mas kayaknya pulang sehabis ashar aja ya, gak apa-apa kan?"
"iya."
Sore itu sehabis ashar, mas saeful pulang ke Tangerang. Sementara aku minta si aa, adikku, untuk menjemputku pulang kerumah. Aku pulang kerumah sore itu dan berencana cuti kerja esok harinya. Entah kenapa moodku belum juga membaik, mungkin setelah pulang dan bertemu orangtua nanti, hatiku bisa sedikit lebih tenang.
The Journey
PONDOK PAK ONDO
10 menit yang melelahkan..
Berjalan gontai seperti membawa puluhan kilo beban, padahal hanya membawa badan. Heumm apa iya badanku bobotnya sudah mulai kelebihan?!
Hari senin kedua dibulan Januari 2018, kembali pulang ke paviliun mungil dilantai dua rumah pak RT.. Pondok Pak Ondo kuberi nama. Tak terasa sudah 5 tahun lebih aku menetap disini.
Kalau aku ingat lagi alasan kenapa ngotot sekali untuk pindah kost dari tempat lama waktu itu, tak lain dan tak bukan adalah aku ingin melupakan dan mengubur semua kenangan dan jejak yang ditinggalkan oleh dia di tempat itu.
Kenangan buruk tentang kamu, laki-laki berjacket biru. Kenangan yang sebenarnya indah tapi berubah menjadi mimpi terburukku.
5 tahun lebih.. Sepertinya aku telah bisa melaluinya. Bahkan jika kusebut namanya, rasanya tak sesakit seperti kala itu.
Lebih dari 5 tahun yang lalu, ibu dan bapak kost menyambutku dengan hangat. Satu yang sangat aku suka dari tempat ini, karena mereka, pemilik rumah yang sangat ramah. Sampai ketika dua tahun kemudian ibu pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Meninggalkan kami dan pondok ini, menuju pembaringan terakhirnya.
Kehilangan?
Sudah pasti! Ibu yang selalu mengetuk pintu kamarku pagi-pagi sebelum aku berangkat kerja, sambil membawa sepiring nasi goreng, atau semangkuk bubur ketan hitam, atau beberapa potong pisang goreng yang sengaja ibu kasih untuk sarapanku katanya. Sungguh membuatku terharu..
Ditempat ini aku sempat merenda harapan akan masa depan. Masa depan antara aku dan mas saeful. Menikah, honey moon ke Lombok, kemudian ikut pindah dan tinggal dengan mas Saeful di Tangerang. Ditempat ini aku membakar semua harapan semu itu, harapan yang tak pernah terwujud.
Ditempat ini pula aku mendengar bnyak kabar tentang kelahiran. Kelahiran cucu sang pemilik rumah, bahkan dua kali dalam rentang waktu 3 tahun. Berita kematian serta kehilangan. Bahkan akupun kehilangan orang-orang yg berarti, datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang benar-benar tinggal..
Aku berjumpa dengan mas Saeful tanpa sengaja. Pada pertengahan bulan April tahun 2014. Saat itu kebetulan aku sedang cuti kerja dan siang-siang mampir ke sebuah mall, ceritanya sih mau cari makan siang sambil hunting novel ke sebuah toko buku di mall tersebut. Tanpa sengaja aku bertemu Yudha, temanku waktu kuliah, kami memang belum pernah satu kelas, hanya saja satu jurusan dan angkatan yang sama.
Ketika aku berjalan masuk ke sebuah resto di mall tersebut, yudha datang menghampiri. Kaget, ternyata yang menepuk bahuku itu temenku waktu kuliah, dia pun akhirnya mengajakku bergabung makan siang bersama. Dan pada saat itulah, aku bertemu dengan mas Saeful. Dia boleh dibilang rekannya yudha, hanya beda divisi. Yudha mengenalkan kami. siang itu kami berbincang, ternyata mereka sedang ada tugas di bandung. Setelah perjumpaan aku, yudha dan mas saeful, beberapa hari kemudian yudha contact aku via bbm. Dia bermaksud meminta ijin untuk memberikan nomor telpon serta pin bbm kepada mas saeful. Yudha bilang mas saeful yang minta, dan yudha gak berani kasih sebelum minta ijin dulu sama aku. Kemudian aku ijinkan, gak ada salahnya juga bertambah teman. Mas Saeful itu ternyata Ass Manager di perusahaan tempat yudha kerja, dia tinggal di tangerang, kost. Karena rumah orangtuanya ternyata di Indramayu.
Gak berapa lama mas saeful pun invite bbm ku. Mulai saat itu kami pun intens berkomunikasi, bahkan tanpa terasa kami sudah boleh dikatakan pacaran, sampai akhirnya mas Saeful memintaku untuk menikah.
"Neng, nikah yuk?" begitu katanya, padahal kami baru 3 bulan jalan.
Aku pikir kenapa Enggak?! toh kami sudah sama-sama dewasa, sudah merasa sama-sama cocok. Benarkah?
Aku menerima ajakan mas Saeful, asal kita menikah di bulan Oktober. Kenapa harus Oktober? Karena pada bulan itu Mamaku berulang tahun, dan aku ingin mempersembahkan pernikahanku itu agar menjadi hadiah terindah untuk mama. Mengingat selama ini mama selalu berharap agar anak sulungnya cepat menikah.
"Setelah nikah nanti, mas pengen kita pergi ke lombok, ke Gili Trawangan. Tempat itu bagus neng, romantis.. pasti cocok buat kita honey moon kesana nanti."
"emang ada uangnya mas?" tanyaku.
(Bodohnya pertanyaanku itu, masa iya seorang assmen di sebuah perusahaan asing gak punya uang hanya untuk pergi liburan ke lombok seminggu?!)
"Tenang aja, mas udah siapin kalau untuk itu sih.., selain itu mas juga dapet resort recomendasi dari temen, resortnya bagus katanya kalo untuk pasangan pengantin baru." tersenyum.
Aku denger itu kok malah tambah ngebet pengen nikah, hahaha.
"Habis itu, kita jangan lama-lama tinggal dirumah orangtua ya, kalo misal sehabis acara nikahan, dua hari kemudian kita pindah ke Tangerang kamu mau nggak?"
"Mau, nanti aku apply juga ah di tangerang. Jadi kamu kerja, aku juga kerja."
"Kamu gak apa-apa gitu tinggal jauh dari orang tua kamu?"
"selama ini juga kan aku tinggal sendiri, kost. Ya walaupun gak terlalu jauh sih dari rumah, tapi setidaknya aku sudah terlatih hidup sendiri."
"iya mas percaya kamu perempuan mandiri."
"aku sih asal jangan tinggal sama mertua aja."
"ya nggak mungkinlah, orangtuaku kan tinggal di indramayu, sementara kantorku kan ditangerang. Nanti deh mas coba cari-cari rumah yang dikontrakin, kecil dulu gak apa-apa ya? ngontrak dulu gak apa-apa ya?"
"gak apa-apa masku, aku sih seneng selama kita jalanin berdua dan gak ada yang intervensi dari sana sini." -sepakat-
Mas Saeful dalam sebulan dua kali visit aku di bandung, kadang kerumah ketemu mama papa, kadang hanya jalan di bandung aja, nemenin nonton, makan dan hunting novel. Setelah mas saeful memintaku untuk menikah, aku ajak mas saeful bertemu kedua orangtuaku untuk membicarakan hal tersebut.
"Yah beginilah kami mas, bukan dari keluarga berada atau keluarga kaya, cuma keluarga sederhana" begitulah kalimat introduction andalan papa ketika berhadapan dengan cowok yang aku ajak kerumah, dan ini kali kedua papa bilang seperti itu setelah sebelumnya pernah bilang hal yang sama kepada cowok berjacket biru.
"Si Teteh ini anak pertama, punya adik tiga orang. yang satu sudah lulus kuliah, cewek, yang masih kuliah cowok, dan yang paling kecil masih SD cewek."
Papa mama sangat welcome sama mas saeful, they treat him very well.
"Jadi begini pak, kedatangan saya kesini itu bermaksud meminta izin untuk membawa Neng ke Indramayu, untuk menemui orangtua saya".
"Oh begitu, kapan mau berangkatnya?" tanya papa.
"inshaa Allah sabtu depan, minggu pulang lagi ke bandung pak, jadi ya hanya sehari semalam saja kami disana."
Papa kasih aku izin untuk ke Indramayu, akhirnya aku bisa juga bertemu kedua orangtuanya, gugup? pasti! Karena sebelum ini, aku belum pernah ketemu orangtua pacarku, calon mertua hahaha. It will be the first time..
Dan akhirnya tibalah hari itu, hari sabtu keramat. Hari dimana aku akan bertemu kedua orangtuanya mas Saeful untuk pertama kalinya. Pagi-pagi sekali mas Saeful berangkat dari tangerang ke bandung, jam 6 pagi dia sudah sampe di kost-an. Mas Saeful sengaja jemput aku ke bandung, kami berencana pergi ke indramayu naik kereta dari stasiun bandung. Kereta menuju Indramayu berangkat jam 8.10, setelah sarapan di kost-an kami langsung pergi ke stasiun, dia parkirkan mobilnya di stasiun.
Jujur ini kali pertama aku naik kereta api, mas saeful malah tertawa terbahak-bahak ketika dia tahu aku belum pernah naik kereta api. Apalagi pas aku bilang kalo aku juga belum pernah naik pesawat, dia tambah kenceng ketawanya. Terus dia berjanji nanti mau ajak aku naik kereta api ke indramayu, dan akhirnya dia penuhi janjinya itu.
Ternyata seperti ini pemandangannya, kiri kanan kadang yang terlihat sawah, kadang kebun, sampai pemukiman kumuh pun ada. tapi setelah lewat cikampek, pemandangannya sawah melulu, seluas mata memandang..
Perjalanan bandung - indramayu ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam.
Tiba di stasiun Jatibarang pukul 11.05 siang. Kami di jemput oleh adiknya mas saeful dan temannya pake motor. Dari stasiun Jatibarang menuju rumah orangtua mas saeful ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Panas banget udaranya, bagi kalian yang mungkin terbiasa tinggal di udara panas pasti gak akan ngaruh, tapi aku terbiasa hidup di udara bandung yang sejuk, tentu itu sangat berpengaruh, apalagi aku gak tahan gerah.
Sesampainya aku di rumah orangtua mas saeful ada ramai orang yang menyambut kami, diantaranya ada ibu beserta bapaknya, ada juga bude nya dan adik serta sepupunya mas saeful yang bernama Naila. Aku dipersilahkan masuk ke rumah. Rumahnya sangat sederhana. Kalo boleh aku bandingkan, masih nyaman rumahku daripada rumahnya mas saeful, maklum belum selesai renovasi, masih dalam tahap finishing. Atapnya belum dipasang plafond. Kita masih bisa lihat rangka penyangga genteng jika melihat ke atas.
Setelah istirahat dan sholat dzuhur, ibunya mas saeful menghampiri aku yang tengah duduk sendiri di ruang tamu, mas saeful setelah diberi kabar kalo anak tetangganya akan menikah esok hari, dia pamit sebentar bersama bapak untuk berkunjung ke tetangganya tersebut, sekedar memenuhi undangan. Awalnya gak ada yang aneh dengan ibunya mas saeful, sampai akhirnya terjadi percakapan aku dengan beliau yang bikin aku down.
"sudah kenal berapa lama sama epul?" tanya ibu dengan logat jawa nya kental.
"kurang lebih tiga bulan ini bu." jawabku
"Oh, epul itu ya, nggak tahu apa yang dicarinya. Padahal ibu udah kenalin ke anak-anaknya temen ibu, ada yang PNS, ada yang kerja di BANK, ada yang pengusaha udah punya mobil dan rumah sendiri, tapi dia nolak aja terus, padahal selevel sama sama lulusan universitas ternama, gak tahu apa yang dicari epul."
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan ibunya mas saeful tersebut.. Baru pertama ketemu aja ibunya sudah memberi kesan yang kurang menerima. Duh mas, sekiranya aku gak selevel kenapa kamu malah pilih aku dan minta aku buat menikah sama kamu.. Aku hanya menatap kosong, mendengar ibunya berujar seperti itu siapapun pasti akan merasa down. Apalagi aku, lulusan universitas ternama juga bukan, apa yang aku bisa banggakan? pekerjaan? cuma seorang karyawan pabrik apa bagusnya? keluarga? orangtua ku bukan keluarga kaya yang punya perusahaan atau pekerjaan yang bergengsi.
Kemudian ibunya undur diri dari hadapanku, katanya beliau mau ke rumah sebelah, rumah budenya mas saeful.
Aku termenung, ternyata apa yang aku bayangkan tentang kedua orangtua mas saeful sungguh jauh berbeda dengan kenyataan. Mereka nggak seperti kedua orangtuaku yang sangat welcome ketika menyambut mas saeful. Sekilas aku teringat kembali cerita mas saeful tentang mantan pacarnya yang seorang perawat di Belanda.
"Mantanku seorang perawat, dulu dia maksa banget mas untuk ikut ke belanda. dia bilang siap menanggung biaya mas di sana sebelum mas dapat kerjaan. Waktu itu gajinya sebagai seorang perawat di belanda itu udah gede, sekitar 40 juta sebulan. Sementara mas disini baru sebagai staff biasa, belum kayak sekarang, punya posisi yang lumayan."
"Terus, kenapa mas gak mau diajak ke Belanda? padahal kan enak, ada yang biayain juga, sebelum mas dapet kerjaan di sana."
"Enggaklah, mas ini kan laki-laki, mosok laki-laki dibiayain perempuan? gini-gini mas masih punya harga diri, kalopun dulu mas mau jadiin dia isteri, mas pasti suruh dia pulang dan tinggal di indonesia. Tapi dia keburu nyaman kerja disana, dia udah gak mau pulang ke indonesia, pulang kerumahnya yang di banten aja setahun sekali, itu pun di paksa untuk nengokin kedua orangtuanya. Beberapa waktu lalu malah sempet bbm-an sama mas, dia bilang bulan desember ini mau pulang ke indonesia, dia ngajakin mas ketemu."
"terus mas mau?"
"ya tergantung, mas di ijinin nggak sama pacaranya mas?! mas udah bilang sama dia, mas mau ketemu sama dia atas seijin pacarnya mas, mas udah bilang kok kalo mas udah punya kamu."
Setelah ibunya mas saeful beranjak keluar rumah, datanglah seorang anak gadis bernama Naila. Dia memperkenalkan diri dengan malu-malu. Anak itu baru kelas dua SMA, dia tinggal sendiri di rumah yang letaknya di belakang rumah orangtua mas saeful. Naila tidak tahu dimana ayahnya sekarang tinggal, naila hanya punya seorang ibu yang tinggal dan bekerja di riyadh sebagai TKW.
Kasian sekali anak seumur Naila, tidak punya kakak pun adik. Harus tinggal sendiri karena tidak punya pilihan, masih untung sih rumahnya dekat sekali dengan rumah ibunya mas saeful, jadi dia ada yang memperhatikan. Beberapa jam sampai di tempat itu, ternyata aku baru tahu kalau penduduk kampung tersebut mayoritas adalah para TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri. Mulai dari Malaysia, Brunei, Singapore, hongkong, taiwan, korea sampai timur tengah.
"Mbak dari Bandung ya?" tanya Naila.
" iya." Jawabku.
"Mbak cantik, orang bandung cantik-cantik ya mbak." Naila menggodaku.
"Naila juga cantik, rajin lagi." ujarku.
"Katanya bandung itu dingin ya mbak? banyak tempat main katanya ya?" tanya naila.
"iya nay, bandung dingin. Makanya mbak dateng ke sini langsung kegerahan hehehe.."
"hehe gitu ya mbak, kalo naila sih udah biasa di tempat panas, jadi nggak kegerahan. paling kalo naila nyuci baru kerasa gerah."
"nyuci? nyuci apa emangnya? kok sampe kegerahan gitu?"
"nyuci baju mbak, kan bajunya banyak."
"banyak? kan naila tinggal sendiri, masa nyuci baju sendiri banyak?"
"kan naila juga cuciin bajunya bude, bulek sama baju-baju isterinya kakak mas saeful yang tinggal di tangerang kalau kebetulan dateng nginep disini."
"hah?! Emangnya mereka nggak nyuci baju sendiri nai? kok sampe kamu yang cuci baju mereka?"
"Enggak mbak, kan sudah tugas naila, kata ibu anggap aja latihan, biar nanti setelah lulus SMA, naila daftar jadi TKW, sama kayak ibu."
"emang Naila gak mau gitu habis lulus SMA, terus lanjut kuliah?"
"Enggak ah, naila kan enggak kayak Yanti. Kalo Yanti kan pinter, udah gitu kalo mau kuliah ada mas saeful yang bisa biayain kuliahnya. kan kalo naila gak ada yang biayain kuliah."
"Kan ada ibu? bukannya ibu kerja, gajinya kan bisa dipake buat naila kuliah?"
"gaji ibu dipake buat bikin rumah di belakang mbak, mbak mau lihat? belum selesai sih, baru rangkanya aja. baru satu kamar aja yang dibuat setengah jadi, buat naila tidur."
"Yanti itu siapa?" tanyaku.
"Adiknya mas saeful yang seumuran sama naila, orangnya cerdas sama kayak mas saeful. Bude bilang, kalo naila gak pantes kuliah, yang pantes itu yanti. karena yanti itu cerdas. Yanti malah lompat kelas lho mbak, sekarang dia udah kelas tiga SMA, padahal masuk SD nya bareng sama Naila."
"Yanti yang lompat kelas apa Naila yang tinggal kelas?" Aku menggoda Naila.
"iihhh demi Alloh mbak, naila gak pernah tinggal kelas, paling cuma masuk 15 besar aja."
aku tertawa dengar pembalaan naila dengan polosnya.
Mendengar kata-kata naila kok ya aku jadi prihatin. Naila, mungkin dia juga punya keinginan yang sama kayak yanti, kuliah setelah lulus SMA. Tapi keadaan tidak memungkinkan sepertinya, dan juga tidak ada dukungan dari keluarga, mengingat ibunya sendiri tinggal jauh dari indonesia. Sementara keluarga mas saeful juga sepertinya tidak memberikan dukungan yang berarti untuk naila.
"Terus sekarang yanti kemana? belum pulang sekolah? "
"Yanti kost mbak, di dekat sekolahnya. Soalnya kalo berangkat dari sini lumayan agak jauh jaraknya. "
"heumm gitu ya.. terus pulangnya seminggu sekali? "
"iya, biasanya gitu."
"berarti hari ini pulang dong?"
"gak tahu tuh, biasanya kalo sabtu pulangnya pas ashar. "
Aku bosan diam dirumah mas saeful, teman ngobrolku cuma naila saja. Akhirnya aku dan naila pergi ke belakang, melihat-lihat rumahnya naila yang belum selesai. Lantainya masih tanah, temboknya belum dilapisin pasir dan semen sehingga yang bisa dilihat hanyalah tembok dengan tumpukan batu bata merah yang tersusun rapi. Aku masuk ke dalam kamar naila, mashaa Allah, jadi gadis kecil itu hanya tidur diatas sebuah dipan yang dilapisi oleh kasur tipis. belum ada kaca di jendelanya, sehingga jendelanya hanya ditutup oleh selembar triplex. Disudut kamar ada buntelan kain sprei, rupanya itu baju-baju naila yang belum di sterika.
Saat aku sedang memperhatikan rumah naila, tiba-tiba mas saeful menghampiri..
"Neng?! pantesan dirumah nggak ada, rupanya diculik naila ke sini toh.."
"yee enggak diculik kok mas, tadi mbaknya bosen dirumah, terus naila ajak ke sini." jawab naila.
"hehe iya, tadi aku bosan cuma duduk diem dirumah, ibu tadi pamit pergi ke rumah bude katanya, jadi ya cuma naila yang mau nemenin aku."
"o'ya? kirain sama ibu disini."
"enggak."
"udah yuk ke rumah lagi, ada bapak tuh mau ngobrol."
Aku beranjak mengikuti langkah mas saeful menuju rumah, sesampainya disana sudah ada bapak yang sedang duduk berdua sama ibu.
"aahh ini dia, sini neng kita ngobrol-ngobrol sambil makan buah mangga. Kebetulan barusan metik beberapa buah di kebun."
"ohh bapak punya kebun mangga?" tanyaku dengan nada antusias.
"ah cuma beberapa pohon kok, ndak banyak, cuma untuk konsumsi sendiri aja. Besok bawa ya buat oleh-oleh papa sama mama di bandung."
"wah jangan pak, nanti malah ngerepotin."
"oh ya ndak repot, bawa aja, sekalian sampaiken salam bapak buat papa mama ya."
"iya pak, terimakasih."
"Jadi gini neng, mas mu ini udah bilang soal rencana kalian menikah itu. Bapak sama ibu ya seneng, akhirnya si mas ada keberanian ngajak cewek nikah, setelah sebelumnya sudah dilangkahi adiknya nikah."
Aku melirik mas saeful dengan tatapan penuh tanya. (Hah?! apa?? mas saeful pernah dilangkahi adiknya menikah? kok dia nggak cerita?)
"Cuma begini, kalau acaranya dibulan oktober kayaknya gak bisa. Soalnya kakaknya mas saeful udah duluan melamar calonnya, dan acara nikahannya akan digelar di bulan November tahun ini, dan menurut adat kan gak boleh ya dalam satu tahun ada dua pernikahan. Jadi gimana kalau acaranya neng sm epul diundur, ya minimal sampe udah pindah tahun gitu. Kan 2015 sebentar lagi, jadi gak terlalu lama nunggu." giliran ibunya yang menjelaskan.
"Sebenarnya kakaknya mas saeful yang mau nikah tuh adalah pernikahannya yang kedua kali. Dia itu duda, cerai sama isterinya. Karena isterinya itu disuruh cari duit ke arab sana malah punya anak disana!" setengah emosi bapak bilang begitu.
"Astagfirulloh." Aku terkaget-kaget denger bapak bilang gitu. (apa ini? isterinya disuruh cari duit? kenapa bukan suaminya aja yang cari duit, bukankah itu memang sudah tugas dan kewajibannya laki-laki, untuk cari nafkah dan menafkahi? kenapa harus isterinya yang disuruh cari duit? nyari duitnya jauh lagi sampe ke arab, terus kerjanya itu cowok ngapain dong?) kembali aku menatap mas saeful dengan tatapan bertanya-tanya, dan setengah gak percaya apa yang dibilang bapak barusan).
Adzan ashar berkumandang, bapak pamit pergi ke musholla. Ibu kembali ke rumah bude.
"Mas gak ikut sekalian ke mushollah bareng bapak?"
"nanti aja neng, masih capek."
"capek? emang habis ngapain sih sampe capek gitu?"
"kamu emang gak capek neng? seharian jalan dari bandung sampe sini?"
"enggak, biasa aja. Aku malah excited, kan baru kali ini aku naik kereta api."
"hahaha dasar kamu!"
"ya udah, aku mau ashar dulu. atau bareng aja yuk, kamu imamin aku sholat?"
"kamu aja duluan neng, nanti mas mau rebahan dulu sebentar."
"yo weis,, tapi disini aja ya, jangan kemana-mana lagi, ntar aku gak ada temen ngobrol lagi. Untung tadi ada naila."
"iya iya.. eh neng, kamu nanti tidur di kamar Yanti aja, kosong kok, sekalian aja nanti bawa tasnya ke situ, sholat di situ aja."
"Yanti emang biasa pulang sore ya?"
"dia gak pulang hari ini, lagi ada kegiatan katanya. Jadi kamarnya kamu pake aja, kosong kok. "
"Oke!" jawabku sambil lalu.
Ketika aku sholat, mas saeful masuk ke kamar Yanti, dia kemudian rebahan di tempat tidurnya yanti. Setelah selesai sholat, aku memandangi wajahnya mas saeful yang pura-pura merem. Kemudian dia tersenyum karena sadar sedang dipandangi olehku.
"kamu kenapa sih, mandangnya gitu amat? terpesona sama kegantenganku, iya?" Kata dia menggoda.
"ngarang! aku cuma heran aja."
"heran kenapa?"
"mas kenapa gak cerita soal yang dibilang bapak tadi?"
"cerita apa cintaku?"
"itu yang soal adik mas udah pernah nikah, terus soal kakak kamu yang mau menikah untuk yang kedua kalinya."
"oh, itu.. hmmm ,, gimana mulainya ya neng, coba bentar mas mau rangkai kata-kata dulu, kasih waktu mas buat mikir."
"ya ampun, tinggal cerita gitu doang pake mesti merangkai kata-kata dulu, kamu tuh bukan pujangga, dan aku juga nggak minta dibuatin karya sastra, aku cuma mau kamu cerita, apa susahnya?"
"oke oke,, jadi begini, mas ini anak ketiga dari 6 bersaudara. Kakakku yang pertama yang bapak cerita tadi, yang mau nikah di november ini, kakakku yang kedua yang tinggal di Tangerang sudah berkeluarga punya dua anak. Adik mas persis dibawah mas yang melangkahi mas nikah, terus yang jemput kita tadi di stasiun dan yang paling bontot yanti, cewek satu-satunya. Kamu tahu nggak menurut data statistik angka perceraian di indramayu itu adalah yang tertiggi se indonesia?"
"hah?! masa sih?"
"iya, adikku yang melangkahi aku itu, dia juga bercerai. Kenapa aku nggak cerita sama kamu, karena aku gak mau kamu berpikiran yang enggak-enggak tentang aku, jujur aku takut ini akan mempengaruhi hubungan kita, tadinya sih kupikir gitu. Nah sekarang setelah kamu tahu, kira-kira penilaian kamu terhadap mas gimana?"
"gak gimana-gimana, biasa aja. Karena kalo menurutku, gagal atau enggaknya suatu hubungan atau ikatan pernikahan bukan karena angka statistik atau dari daerah mana dia berasal, tapi melainkan dari pribadinya sendiri, bisa nggak dia membuat hubungan itu menjadi langgeng sampe kakek nenek."
Mas saeful tersenyum.
"Aku kasih tahu ya sama kamu neng, satu kampung ini aja, hampir setiap rumah itu ada orang yang statusnya janda/duda cerai, dan seperti baru kamu tahu juga bahwa memang di kampungku ini mayoritas adalah TKI dan TKW, seperti halnya mantan-mantan iparku. Seperti yang bapak bilang tadi, kakak iparku memang punya anak neng di sana, sementara disini mereka nggak punya anak. Mungkin karena berpisah jauh, dan kita juga gak bisa salahin orangnya, kebutuhan biologis apalagi setelah menikah kan gak mungkin setiap orang bisa tahan. apalagi ini kontraknya lama, minimal dua tahun."
"mas percaya kalo iparnya mas disana selingkuh?" tanyaku.
"ya nggak tahu, cuma kabarnya dia punya anak disana. Makanya langsung diceraikan sama kakakku."
"gimana kalo ternyata dia korban paksaan, mas? gimana kalo ternyata mantan isterinya kakakmu itu jadi korban pelecehan seksual disana? seperti yang sering kita dengar bahwa TKW di arab banyak yang jadi korban pelecehan seksual majikannya sendiri?"
(Mas Saeful terdiam dengar pertanyaanku.)
"kita kan gak tahu keadaan disana kan mas, jadi seharusnya kita gak boleh suudzon. dan yang aku gak habis pikir, kenapa mesti isterinya yang cari nafkah? kenapa bukan kakanya mas? kan itu bukannya tugas dan kewajiban laki-laki untuk mencari nafkah?"
mas saeful kemudian kembali merbahkan tubuhnya..
"Kakaku itu dulu baru dua tahun menikah dia kena PHK, coba nyari kerja kesana kemari nggak dapet-dapet, sementara kan dapur mesti ngebul, bapak bilang mumpung belum punya anak, kenapa gak berangkat aja jadi TKI, tapi kakaku itu nggak punya keahlian, umurnya pun udah gak masuk kriteria, nah isterinya mulai deh mengeluh soal biaya sehari-hari yang memang sering di bantuin keluarganya, keluarga mas juga sering kasih untuk mereka. sampe akhirnya kakak mas nyuruh isterinya jadi TKW, tapi itupun gak ada paksaan. Cuma iseng aja nyuruh, kamu mau gak jadi TKW, tuh temen-temen kamu banyak sekarang yang udah punya rumah hasil kerja di korea dan lain sebagainya, dan akhirnya isterinya pun menyetujui untuk jadi TKW, daftarlah dia, sampai ditempatkan di riyadh, dan akhirnya kejadian lah dia punya anak di sana, baru 18 bulan dia disana waktu dia melahirkan."
Aku membisu cukup lama..
"heh,, neng, kok ngelamun?"
"Terus, adikmu kenapa cerai? kelahiran tahun berapa?"
"umurnya sih sebaya kamu neng, cuma dia dipaksa cerai karena isterinya gak mau disuruh jadi TKW, bapaknya keberatan, akhirnya isteri adikku dijemput pulang bapaknya. Ya memang, adikku itu cuma kerja serabutan neng, cuma lulusan SMP, tapi sekarang lagi ambil paket C. Kasian juga sebenarnya, pilihannya dulu, kalo dia lanjut sekolah, maka mas putus kuliah. Dia ngalah, karena dia sendiri udah gak punya keinginan untuk meneruskan pendidikan. Yang kuliah di keluarga mas cuma mas seorang neng, dulu waktu SMP mas ini salah satu Siswa Teladan se-Indramayu. Mungkin itu yang bikin ibu terus mendorong mas untuk kuliah, dan alhamdulillah mas bisa masuk UI. Hasil kerja keras ibu bapak dan pengorbanan kakak dan adikku."
"Pantas saja ibu kamu ekspektasinya tinggi sekali soal kriteria calon isteri buatmu."
Mas saeful terperanjat, kemudian dia duduk sejajar denganku.
"Maksud kamu apa? Emang ibu tadi ngomong apa?"
"Ibu tadi cerita, katanya calon kamu oke-oke, ada yang kerja di Bank, ada yang pengusaha udah punya mobil dan rumah, ada yang PNS, ada juga yang lulusan Universitas ternama, kata ibu "SELEVEL sama kamu", kalo dibandingkan dengan mereka, apalah aku ini mas. aku gak punya sesuatu yang bisa di banggakan. lagian, kok kamu mau sih sama aku?"
"neng, jangan gitu ah..!"
"mantan kamu yang dulu, yang perawat itu, apa dulu ibu tahu tentang dia?" tanyaku.
"ibu tahu, malah dulu sering telponan sama ibu, tapi belum sempat mas ajak ketemu ibu. cuma ngobrol ditelpon doang."
Dasar mas saeful itu, dia itu gak pernah peka, gak tahu apa dia kalo aku cemburu?
"pantas aja ya, kalau dibandingkan dengan mereka, aku sih gak ada apa-apanya."
"Denger ya cintaku, kamu gak usah dengerin apa yang ibuku bilang. mungkin ibuku cemburu, karena anak kebanggaannya sudah ada yang punya." dia berkata sambil memencet hidungku.
"ibuku memang begitu tabiatnya, judes. Malah sama tetangga sebelah juga gak akur, beberapa minggu kemaren mas sempet ketemu sama anaknya tetangga sebelah dijakarta, dia minta tolong sama mas untuk mendamaikan ibu sama tetangga sebelah itu, mereka katanya ada konflik lagi, mas akhirnya pulang, terus mas tanya ibu baik-baik, ada masalah apa sebenarnya, kenapa sampai gak bisa akur sama tetangga sebelah? masalahnya simple sih, tetanggaku pasang pagar, katanya melewati batas tanah pekarangan rumah ini. Tapi menurut mas sih gak gitu, gak tahu mungkin mas nya gak tahu batas-batas tanah sini. Tapi ya mas bilang sama ibu untuk berhenti gak usah berantem lagi, kan malu sama tetangga sendiri, tetangga itu kan ibaratnya saudara terdekat kita, kalo sama tetangga gak akur nanti kalo ada apa-apa mau minta tolong siapa."
"Mas mau mandi dulu sekalian ashar, habis ashar mau ke rumah mas Alex, mau ikut nggak neng?"
"Mas Alex itu siapa?"
"itu yang punya toko bahan-bahan bangunan, mas mau bayar material yang kemaren buat renovasi rumah, sekalian beli plafond, jadi biar cepet selesai ini rumahnya."
"Mas yang biayain semua?"
"Sebagian besar, sebagian lagi dari kakaknya mas yang di tangerang, jadi gimana? ikut nggak?"
"ikut!"
"ikut kemana? kamar mandi?"
"yee, maunya!! Ikut ke tempat mas Alex lah."
"ya udah, nanti sekalian pulangnya kita mampir dulu ke pasar malam ya, kata naila ada di dekat balai desa."
"oke" aku jawab dengan nada kurang antusias.
"neng,, apa yang ibuku bilang tadi, jangan dipikirin ya?!." ujar mas saeful sebelum dia berlalu ke kamar mandi, meninggalkan aku yang duduk mematung diatas sajadah.
Sore itu kami pergi ke tempat mas Alex, setelah selesai urusannya mas Saeful mengajakku makan mie ayam langganannya dulu. Tukang mie ayam itu namanya mas Yanto.
"Pie kabare mas?" mas saeful menepuk pundak tukang mie ayam itu.
"Wuiihhhh,, ada pak bos toh, lagi mudik sampeyan? apik mas.. sampean apa kabar nya?"
"Alhamdulillah baik, iya nih mulih bentar mas sambil bawa ini nih." matanya mas saeful melirikku.
Mas Yanto melirik aku dan bertanya sama mas saeful, "Sopo iki? calon mu toh?"
"kenalin neng, ini namanya mas Yanto, beliau ini pedagang ulet, saking uletnya sekarang udah jadi bos, warung baksonya aja udah punya beberapa cabang."
"weee bisa aja, panjenengan iki lho yang udah dadi bos. oalah, ayu tenan bojomu mas."
Aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka, karena bahasa mereka gak begitu aku mengerti.
"o iya, pesen dua yo yang spesial.."
"siap pak boss.."
Sepulang dari warung bakso mas yanto, kami berdua mampir dulu ke pasar malam, hanya berkeliling sebentar dan membeli kue pancong buat di rumah.
"Kalo di bandung ini namanya kue Bandros"
"oya? disini namanya kue pancong, ibu suka banget neng sama kue pancong ini."
"tapi rasanya masih lebih enak yang di bandung, yang di bandung nggak bantet kayak gini, ini sih keras kue nya, kelapanya juga dikit."
"ya kalo dibandingkan dengan yang di bandung pastilah kalah, bandung kan tempatnya wisata kuliner, jadi wajar kalo makanannya enak-enak, kalo indramayu kan kota nya mangga."
"bukan, kota TKI/TKW." pungkasku.
mas saeful merangkulku dan mencubit pipiku gemas.
Setelah pesanan kue pancong kami jadi, kami pun berlalu pulang ke rumah mas saeful. Sewaktu di motor dia kembali melirik ke bungkus plastik yang isinya kue pancong tersebut.
"si bapak penjual kue pancong itu gak tahu apa ya kalo makanan itu gak boleh langsung dibungkus pake keresek warna hitam, ini kan karsinogen, harusnya dikasih plastik yang bening dulu gitu, yang khusus buat makanan." ujarnya.
"ya ampun mas, itu si bapak tukang kue pancong kalo dia pinter, dia gak akan jadi tukang kue pancong kali, mungkin dia jadi pejabat, atau boss pembuat plastik kemasan. Ya udah sih, di maklum aja, namanya juga orang dusun, gak banyak tahu, mungkin dia juga gak tahu apa itu karsinogen."
"iya ya, kadang-kadang kamu pinter juga neng."
"kok kadang-kadang sih? udah dari lahir kali." aku bersahut kesal, sementara dia hanya ketawa.
Malam harinya rumah mas saeful kedatangan tamu, mereka teman-temannya mas saeful sewaktu sekolah dulu. Rumahnya pun berdekatan, mereka mendengar kepulangan mas saeful sehingga menyempatkan waktu untuk bertemu dan melepas rindu. Mas saeful mengenalkanku kepada teman-temannya itu, kami sempat ngobrol sebentar sampai akhirnya aku undur diri ke ruang sebelah, bukan maksud menghindar dari mereka hanya saja aku kesulitan memahami bahasa jawa. Aku sama sekali nggak ngerti bahasa jawa, sementara mereka gak fasih berbahasa indonesia.
Diruang tengah ada naila yang sedang memijat ibunya mas saeful. Melihat aku masuk, ibunya mas saeful meminta naila untuk berhenti memijatnya, beliau bertanya apakah aku sudah makan, dan menyuruhku makan. Kemudian aku jawab nanti saja bareng sama mas saeful. Sepertinya ibunya benar-benar gak suka sama aku, baru sebentar aku diruangan tengah itu, ibu masuk ke kamar. Tinggalah aku berdua dan naila, lagi. Kami nonton TV berdua, sesekali bercanda. Naila itu anak yang menyenangkan, dia itu periang sekali, meskipun jauh dari orangtua, tapi sepertinya itu gak jadi beban pikirannya. Aku penasaran, seperti apakah yanti? apakah dia seperti Naila juga? katanya Yanti cerdas, apa Yanti juga ramah seperti Naila? atau malah judes kayak ibu?
"Besok Yanti pulang mbak, tadi bude udah telepon suruh Yanti pulang, kenalan sama mbak."
"o ya?"
"iya."
Hemm.. sepertinya kita akan segera tahu tentang sosok yanti adik kesayangannya mas saeful, semoga saja dia baik seperti Naila, atau bahkan lebih baik dari Naila..
Berjalan gontai seperti membawa puluhan kilo beban, padahal hanya membawa badan. Heumm apa iya badanku bobotnya sudah mulai kelebihan?!
Hari senin kedua dibulan Januari 2018, kembali pulang ke paviliun mungil dilantai dua rumah pak RT.. Pondok Pak Ondo kuberi nama. Tak terasa sudah 5 tahun lebih aku menetap disini.
Kalau aku ingat lagi alasan kenapa ngotot sekali untuk pindah kost dari tempat lama waktu itu, tak lain dan tak bukan adalah aku ingin melupakan dan mengubur semua kenangan dan jejak yang ditinggalkan oleh dia di tempat itu.
Kenangan buruk tentang kamu, laki-laki berjacket biru. Kenangan yang sebenarnya indah tapi berubah menjadi mimpi terburukku.
5 tahun lebih.. Sepertinya aku telah bisa melaluinya. Bahkan jika kusebut namanya, rasanya tak sesakit seperti kala itu.
Lebih dari 5 tahun yang lalu, ibu dan bapak kost menyambutku dengan hangat. Satu yang sangat aku suka dari tempat ini, karena mereka, pemilik rumah yang sangat ramah. Sampai ketika dua tahun kemudian ibu pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Meninggalkan kami dan pondok ini, menuju pembaringan terakhirnya.
Kehilangan?
Sudah pasti! Ibu yang selalu mengetuk pintu kamarku pagi-pagi sebelum aku berangkat kerja, sambil membawa sepiring nasi goreng, atau semangkuk bubur ketan hitam, atau beberapa potong pisang goreng yang sengaja ibu kasih untuk sarapanku katanya. Sungguh membuatku terharu..
Ditempat ini aku sempat merenda harapan akan masa depan. Masa depan antara aku dan mas saeful. Menikah, honey moon ke Lombok, kemudian ikut pindah dan tinggal dengan mas Saeful di Tangerang. Ditempat ini aku membakar semua harapan semu itu, harapan yang tak pernah terwujud.
Ditempat ini pula aku mendengar bnyak kabar tentang kelahiran. Kelahiran cucu sang pemilik rumah, bahkan dua kali dalam rentang waktu 3 tahun. Berita kematian serta kehilangan. Bahkan akupun kehilangan orang-orang yg berarti, datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang benar-benar tinggal..
Aku berjumpa dengan mas Saeful tanpa sengaja. Pada pertengahan bulan April tahun 2014. Saat itu kebetulan aku sedang cuti kerja dan siang-siang mampir ke sebuah mall, ceritanya sih mau cari makan siang sambil hunting novel ke sebuah toko buku di mall tersebut. Tanpa sengaja aku bertemu Yudha, temanku waktu kuliah, kami memang belum pernah satu kelas, hanya saja satu jurusan dan angkatan yang sama.
Ketika aku berjalan masuk ke sebuah resto di mall tersebut, yudha datang menghampiri. Kaget, ternyata yang menepuk bahuku itu temenku waktu kuliah, dia pun akhirnya mengajakku bergabung makan siang bersama. Dan pada saat itulah, aku bertemu dengan mas Saeful. Dia boleh dibilang rekannya yudha, hanya beda divisi. Yudha mengenalkan kami. siang itu kami berbincang, ternyata mereka sedang ada tugas di bandung. Setelah perjumpaan aku, yudha dan mas saeful, beberapa hari kemudian yudha contact aku via bbm. Dia bermaksud meminta ijin untuk memberikan nomor telpon serta pin bbm kepada mas saeful. Yudha bilang mas saeful yang minta, dan yudha gak berani kasih sebelum minta ijin dulu sama aku. Kemudian aku ijinkan, gak ada salahnya juga bertambah teman. Mas Saeful itu ternyata Ass Manager di perusahaan tempat yudha kerja, dia tinggal di tangerang, kost. Karena rumah orangtuanya ternyata di Indramayu.
Gak berapa lama mas saeful pun invite bbm ku. Mulai saat itu kami pun intens berkomunikasi, bahkan tanpa terasa kami sudah boleh dikatakan pacaran, sampai akhirnya mas Saeful memintaku untuk menikah.
"Neng, nikah yuk?" begitu katanya, padahal kami baru 3 bulan jalan.
Aku pikir kenapa Enggak?! toh kami sudah sama-sama dewasa, sudah merasa sama-sama cocok. Benarkah?
Aku menerima ajakan mas Saeful, asal kita menikah di bulan Oktober. Kenapa harus Oktober? Karena pada bulan itu Mamaku berulang tahun, dan aku ingin mempersembahkan pernikahanku itu agar menjadi hadiah terindah untuk mama. Mengingat selama ini mama selalu berharap agar anak sulungnya cepat menikah.
"Setelah nikah nanti, mas pengen kita pergi ke lombok, ke Gili Trawangan. Tempat itu bagus neng, romantis.. pasti cocok buat kita honey moon kesana nanti."
"emang ada uangnya mas?" tanyaku.
(Bodohnya pertanyaanku itu, masa iya seorang assmen di sebuah perusahaan asing gak punya uang hanya untuk pergi liburan ke lombok seminggu?!)
"Tenang aja, mas udah siapin kalau untuk itu sih.., selain itu mas juga dapet resort recomendasi dari temen, resortnya bagus katanya kalo untuk pasangan pengantin baru." tersenyum.
Aku denger itu kok malah tambah ngebet pengen nikah, hahaha.
"Habis itu, kita jangan lama-lama tinggal dirumah orangtua ya, kalo misal sehabis acara nikahan, dua hari kemudian kita pindah ke Tangerang kamu mau nggak?"
"Mau, nanti aku apply juga ah di tangerang. Jadi kamu kerja, aku juga kerja."
"Kamu gak apa-apa gitu tinggal jauh dari orang tua kamu?"
"selama ini juga kan aku tinggal sendiri, kost. Ya walaupun gak terlalu jauh sih dari rumah, tapi setidaknya aku sudah terlatih hidup sendiri."
"iya mas percaya kamu perempuan mandiri."
"aku sih asal jangan tinggal sama mertua aja."
"ya nggak mungkinlah, orangtuaku kan tinggal di indramayu, sementara kantorku kan ditangerang. Nanti deh mas coba cari-cari rumah yang dikontrakin, kecil dulu gak apa-apa ya? ngontrak dulu gak apa-apa ya?"
"gak apa-apa masku, aku sih seneng selama kita jalanin berdua dan gak ada yang intervensi dari sana sini." -sepakat-
Mas Saeful dalam sebulan dua kali visit aku di bandung, kadang kerumah ketemu mama papa, kadang hanya jalan di bandung aja, nemenin nonton, makan dan hunting novel. Setelah mas saeful memintaku untuk menikah, aku ajak mas saeful bertemu kedua orangtuaku untuk membicarakan hal tersebut.
"Yah beginilah kami mas, bukan dari keluarga berada atau keluarga kaya, cuma keluarga sederhana" begitulah kalimat introduction andalan papa ketika berhadapan dengan cowok yang aku ajak kerumah, dan ini kali kedua papa bilang seperti itu setelah sebelumnya pernah bilang hal yang sama kepada cowok berjacket biru.
"Si Teteh ini anak pertama, punya adik tiga orang. yang satu sudah lulus kuliah, cewek, yang masih kuliah cowok, dan yang paling kecil masih SD cewek."
Papa mama sangat welcome sama mas saeful, they treat him very well.
"Jadi begini pak, kedatangan saya kesini itu bermaksud meminta izin untuk membawa Neng ke Indramayu, untuk menemui orangtua saya".
"Oh begitu, kapan mau berangkatnya?" tanya papa.
"inshaa Allah sabtu depan, minggu pulang lagi ke bandung pak, jadi ya hanya sehari semalam saja kami disana."
Papa kasih aku izin untuk ke Indramayu, akhirnya aku bisa juga bertemu kedua orangtuanya, gugup? pasti! Karena sebelum ini, aku belum pernah ketemu orangtua pacarku, calon mertua hahaha. It will be the first time..
Dan akhirnya tibalah hari itu, hari sabtu keramat. Hari dimana aku akan bertemu kedua orangtuanya mas Saeful untuk pertama kalinya. Pagi-pagi sekali mas Saeful berangkat dari tangerang ke bandung, jam 6 pagi dia sudah sampe di kost-an. Mas Saeful sengaja jemput aku ke bandung, kami berencana pergi ke indramayu naik kereta dari stasiun bandung. Kereta menuju Indramayu berangkat jam 8.10, setelah sarapan di kost-an kami langsung pergi ke stasiun, dia parkirkan mobilnya di stasiun.
Jujur ini kali pertama aku naik kereta api, mas saeful malah tertawa terbahak-bahak ketika dia tahu aku belum pernah naik kereta api. Apalagi pas aku bilang kalo aku juga belum pernah naik pesawat, dia tambah kenceng ketawanya. Terus dia berjanji nanti mau ajak aku naik kereta api ke indramayu, dan akhirnya dia penuhi janjinya itu.
Ternyata seperti ini pemandangannya, kiri kanan kadang yang terlihat sawah, kadang kebun, sampai pemukiman kumuh pun ada. tapi setelah lewat cikampek, pemandangannya sawah melulu, seluas mata memandang..
Perjalanan bandung - indramayu ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam.
Tiba di stasiun Jatibarang pukul 11.05 siang. Kami di jemput oleh adiknya mas saeful dan temannya pake motor. Dari stasiun Jatibarang menuju rumah orangtua mas saeful ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Panas banget udaranya, bagi kalian yang mungkin terbiasa tinggal di udara panas pasti gak akan ngaruh, tapi aku terbiasa hidup di udara bandung yang sejuk, tentu itu sangat berpengaruh, apalagi aku gak tahan gerah.
Sesampainya aku di rumah orangtua mas saeful ada ramai orang yang menyambut kami, diantaranya ada ibu beserta bapaknya, ada juga bude nya dan adik serta sepupunya mas saeful yang bernama Naila. Aku dipersilahkan masuk ke rumah. Rumahnya sangat sederhana. Kalo boleh aku bandingkan, masih nyaman rumahku daripada rumahnya mas saeful, maklum belum selesai renovasi, masih dalam tahap finishing. Atapnya belum dipasang plafond. Kita masih bisa lihat rangka penyangga genteng jika melihat ke atas.
Setelah istirahat dan sholat dzuhur, ibunya mas saeful menghampiri aku yang tengah duduk sendiri di ruang tamu, mas saeful setelah diberi kabar kalo anak tetangganya akan menikah esok hari, dia pamit sebentar bersama bapak untuk berkunjung ke tetangganya tersebut, sekedar memenuhi undangan. Awalnya gak ada yang aneh dengan ibunya mas saeful, sampai akhirnya terjadi percakapan aku dengan beliau yang bikin aku down.
"sudah kenal berapa lama sama epul?" tanya ibu dengan logat jawa nya kental.
"kurang lebih tiga bulan ini bu." jawabku
"Oh, epul itu ya, nggak tahu apa yang dicarinya. Padahal ibu udah kenalin ke anak-anaknya temen ibu, ada yang PNS, ada yang kerja di BANK, ada yang pengusaha udah punya mobil dan rumah sendiri, tapi dia nolak aja terus, padahal selevel sama sama lulusan universitas ternama, gak tahu apa yang dicari epul."
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan ibunya mas saeful tersebut.. Baru pertama ketemu aja ibunya sudah memberi kesan yang kurang menerima. Duh mas, sekiranya aku gak selevel kenapa kamu malah pilih aku dan minta aku buat menikah sama kamu.. Aku hanya menatap kosong, mendengar ibunya berujar seperti itu siapapun pasti akan merasa down. Apalagi aku, lulusan universitas ternama juga bukan, apa yang aku bisa banggakan? pekerjaan? cuma seorang karyawan pabrik apa bagusnya? keluarga? orangtua ku bukan keluarga kaya yang punya perusahaan atau pekerjaan yang bergengsi.
Kemudian ibunya undur diri dari hadapanku, katanya beliau mau ke rumah sebelah, rumah budenya mas saeful.
Aku termenung, ternyata apa yang aku bayangkan tentang kedua orangtua mas saeful sungguh jauh berbeda dengan kenyataan. Mereka nggak seperti kedua orangtuaku yang sangat welcome ketika menyambut mas saeful. Sekilas aku teringat kembali cerita mas saeful tentang mantan pacarnya yang seorang perawat di Belanda.
"Mantanku seorang perawat, dulu dia maksa banget mas untuk ikut ke belanda. dia bilang siap menanggung biaya mas di sana sebelum mas dapat kerjaan. Waktu itu gajinya sebagai seorang perawat di belanda itu udah gede, sekitar 40 juta sebulan. Sementara mas disini baru sebagai staff biasa, belum kayak sekarang, punya posisi yang lumayan."
"Terus, kenapa mas gak mau diajak ke Belanda? padahal kan enak, ada yang biayain juga, sebelum mas dapet kerjaan di sana."
"Enggaklah, mas ini kan laki-laki, mosok laki-laki dibiayain perempuan? gini-gini mas masih punya harga diri, kalopun dulu mas mau jadiin dia isteri, mas pasti suruh dia pulang dan tinggal di indonesia. Tapi dia keburu nyaman kerja disana, dia udah gak mau pulang ke indonesia, pulang kerumahnya yang di banten aja setahun sekali, itu pun di paksa untuk nengokin kedua orangtuanya. Beberapa waktu lalu malah sempet bbm-an sama mas, dia bilang bulan desember ini mau pulang ke indonesia, dia ngajakin mas ketemu."
"terus mas mau?"
"ya tergantung, mas di ijinin nggak sama pacaranya mas?! mas udah bilang sama dia, mas mau ketemu sama dia atas seijin pacarnya mas, mas udah bilang kok kalo mas udah punya kamu."
Setelah ibunya mas saeful beranjak keluar rumah, datanglah seorang anak gadis bernama Naila. Dia memperkenalkan diri dengan malu-malu. Anak itu baru kelas dua SMA, dia tinggal sendiri di rumah yang letaknya di belakang rumah orangtua mas saeful. Naila tidak tahu dimana ayahnya sekarang tinggal, naila hanya punya seorang ibu yang tinggal dan bekerja di riyadh sebagai TKW.
Kasian sekali anak seumur Naila, tidak punya kakak pun adik. Harus tinggal sendiri karena tidak punya pilihan, masih untung sih rumahnya dekat sekali dengan rumah ibunya mas saeful, jadi dia ada yang memperhatikan. Beberapa jam sampai di tempat itu, ternyata aku baru tahu kalau penduduk kampung tersebut mayoritas adalah para TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri. Mulai dari Malaysia, Brunei, Singapore, hongkong, taiwan, korea sampai timur tengah.
"Mbak dari Bandung ya?" tanya Naila.
" iya." Jawabku.
"Mbak cantik, orang bandung cantik-cantik ya mbak." Naila menggodaku.
"Naila juga cantik, rajin lagi." ujarku.
"Katanya bandung itu dingin ya mbak? banyak tempat main katanya ya?" tanya naila.
"iya nay, bandung dingin. Makanya mbak dateng ke sini langsung kegerahan hehehe.."
"hehe gitu ya mbak, kalo naila sih udah biasa di tempat panas, jadi nggak kegerahan. paling kalo naila nyuci baru kerasa gerah."
"nyuci? nyuci apa emangnya? kok sampe kegerahan gitu?"
"nyuci baju mbak, kan bajunya banyak."
"banyak? kan naila tinggal sendiri, masa nyuci baju sendiri banyak?"
"kan naila juga cuciin bajunya bude, bulek sama baju-baju isterinya kakak mas saeful yang tinggal di tangerang kalau kebetulan dateng nginep disini."
"hah?! Emangnya mereka nggak nyuci baju sendiri nai? kok sampe kamu yang cuci baju mereka?"
"Enggak mbak, kan sudah tugas naila, kata ibu anggap aja latihan, biar nanti setelah lulus SMA, naila daftar jadi TKW, sama kayak ibu."
"emang Naila gak mau gitu habis lulus SMA, terus lanjut kuliah?"
"Enggak ah, naila kan enggak kayak Yanti. Kalo Yanti kan pinter, udah gitu kalo mau kuliah ada mas saeful yang bisa biayain kuliahnya. kan kalo naila gak ada yang biayain kuliah."
"Kan ada ibu? bukannya ibu kerja, gajinya kan bisa dipake buat naila kuliah?"
"gaji ibu dipake buat bikin rumah di belakang mbak, mbak mau lihat? belum selesai sih, baru rangkanya aja. baru satu kamar aja yang dibuat setengah jadi, buat naila tidur."
"Yanti itu siapa?" tanyaku.
"Adiknya mas saeful yang seumuran sama naila, orangnya cerdas sama kayak mas saeful. Bude bilang, kalo naila gak pantes kuliah, yang pantes itu yanti. karena yanti itu cerdas. Yanti malah lompat kelas lho mbak, sekarang dia udah kelas tiga SMA, padahal masuk SD nya bareng sama Naila."
"Yanti yang lompat kelas apa Naila yang tinggal kelas?" Aku menggoda Naila.
"iihhh demi Alloh mbak, naila gak pernah tinggal kelas, paling cuma masuk 15 besar aja."
aku tertawa dengar pembalaan naila dengan polosnya.
Mendengar kata-kata naila kok ya aku jadi prihatin. Naila, mungkin dia juga punya keinginan yang sama kayak yanti, kuliah setelah lulus SMA. Tapi keadaan tidak memungkinkan sepertinya, dan juga tidak ada dukungan dari keluarga, mengingat ibunya sendiri tinggal jauh dari indonesia. Sementara keluarga mas saeful juga sepertinya tidak memberikan dukungan yang berarti untuk naila.
"Terus sekarang yanti kemana? belum pulang sekolah? "
"Yanti kost mbak, di dekat sekolahnya. Soalnya kalo berangkat dari sini lumayan agak jauh jaraknya. "
"heumm gitu ya.. terus pulangnya seminggu sekali? "
"iya, biasanya gitu."
"berarti hari ini pulang dong?"
"gak tahu tuh, biasanya kalo sabtu pulangnya pas ashar. "
Aku bosan diam dirumah mas saeful, teman ngobrolku cuma naila saja. Akhirnya aku dan naila pergi ke belakang, melihat-lihat rumahnya naila yang belum selesai. Lantainya masih tanah, temboknya belum dilapisin pasir dan semen sehingga yang bisa dilihat hanyalah tembok dengan tumpukan batu bata merah yang tersusun rapi. Aku masuk ke dalam kamar naila, mashaa Allah, jadi gadis kecil itu hanya tidur diatas sebuah dipan yang dilapisi oleh kasur tipis. belum ada kaca di jendelanya, sehingga jendelanya hanya ditutup oleh selembar triplex. Disudut kamar ada buntelan kain sprei, rupanya itu baju-baju naila yang belum di sterika.
Saat aku sedang memperhatikan rumah naila, tiba-tiba mas saeful menghampiri..
"Neng?! pantesan dirumah nggak ada, rupanya diculik naila ke sini toh.."
"yee enggak diculik kok mas, tadi mbaknya bosen dirumah, terus naila ajak ke sini." jawab naila.
"hehe iya, tadi aku bosan cuma duduk diem dirumah, ibu tadi pamit pergi ke rumah bude katanya, jadi ya cuma naila yang mau nemenin aku."
"o'ya? kirain sama ibu disini."
"enggak."
"udah yuk ke rumah lagi, ada bapak tuh mau ngobrol."
Aku beranjak mengikuti langkah mas saeful menuju rumah, sesampainya disana sudah ada bapak yang sedang duduk berdua sama ibu.
"aahh ini dia, sini neng kita ngobrol-ngobrol sambil makan buah mangga. Kebetulan barusan metik beberapa buah di kebun."
"ohh bapak punya kebun mangga?" tanyaku dengan nada antusias.
"ah cuma beberapa pohon kok, ndak banyak, cuma untuk konsumsi sendiri aja. Besok bawa ya buat oleh-oleh papa sama mama di bandung."
"wah jangan pak, nanti malah ngerepotin."
"oh ya ndak repot, bawa aja, sekalian sampaiken salam bapak buat papa mama ya."
"iya pak, terimakasih."
"Jadi gini neng, mas mu ini udah bilang soal rencana kalian menikah itu. Bapak sama ibu ya seneng, akhirnya si mas ada keberanian ngajak cewek nikah, setelah sebelumnya sudah dilangkahi adiknya nikah."
Aku melirik mas saeful dengan tatapan penuh tanya. (Hah?! apa?? mas saeful pernah dilangkahi adiknya menikah? kok dia nggak cerita?)
"Cuma begini, kalau acaranya dibulan oktober kayaknya gak bisa. Soalnya kakaknya mas saeful udah duluan melamar calonnya, dan acara nikahannya akan digelar di bulan November tahun ini, dan menurut adat kan gak boleh ya dalam satu tahun ada dua pernikahan. Jadi gimana kalau acaranya neng sm epul diundur, ya minimal sampe udah pindah tahun gitu. Kan 2015 sebentar lagi, jadi gak terlalu lama nunggu." giliran ibunya yang menjelaskan.
"Sebenarnya kakaknya mas saeful yang mau nikah tuh adalah pernikahannya yang kedua kali. Dia itu duda, cerai sama isterinya. Karena isterinya itu disuruh cari duit ke arab sana malah punya anak disana!" setengah emosi bapak bilang begitu.
"Astagfirulloh." Aku terkaget-kaget denger bapak bilang gitu. (apa ini? isterinya disuruh cari duit? kenapa bukan suaminya aja yang cari duit, bukankah itu memang sudah tugas dan kewajibannya laki-laki, untuk cari nafkah dan menafkahi? kenapa harus isterinya yang disuruh cari duit? nyari duitnya jauh lagi sampe ke arab, terus kerjanya itu cowok ngapain dong?) kembali aku menatap mas saeful dengan tatapan bertanya-tanya, dan setengah gak percaya apa yang dibilang bapak barusan).
Adzan ashar berkumandang, bapak pamit pergi ke musholla. Ibu kembali ke rumah bude.
"Mas gak ikut sekalian ke mushollah bareng bapak?"
"nanti aja neng, masih capek."
"capek? emang habis ngapain sih sampe capek gitu?"
"kamu emang gak capek neng? seharian jalan dari bandung sampe sini?"
"enggak, biasa aja. Aku malah excited, kan baru kali ini aku naik kereta api."
"hahaha dasar kamu!"
"ya udah, aku mau ashar dulu. atau bareng aja yuk, kamu imamin aku sholat?"
"kamu aja duluan neng, nanti mas mau rebahan dulu sebentar."
"yo weis,, tapi disini aja ya, jangan kemana-mana lagi, ntar aku gak ada temen ngobrol lagi. Untung tadi ada naila."
"iya iya.. eh neng, kamu nanti tidur di kamar Yanti aja, kosong kok, sekalian aja nanti bawa tasnya ke situ, sholat di situ aja."
"Yanti emang biasa pulang sore ya?"
"dia gak pulang hari ini, lagi ada kegiatan katanya. Jadi kamarnya kamu pake aja, kosong kok. "
"Oke!" jawabku sambil lalu.
Ketika aku sholat, mas saeful masuk ke kamar Yanti, dia kemudian rebahan di tempat tidurnya yanti. Setelah selesai sholat, aku memandangi wajahnya mas saeful yang pura-pura merem. Kemudian dia tersenyum karena sadar sedang dipandangi olehku.
"kamu kenapa sih, mandangnya gitu amat? terpesona sama kegantenganku, iya?" Kata dia menggoda.
"ngarang! aku cuma heran aja."
"heran kenapa?"
"mas kenapa gak cerita soal yang dibilang bapak tadi?"
"cerita apa cintaku?"
"itu yang soal adik mas udah pernah nikah, terus soal kakak kamu yang mau menikah untuk yang kedua kalinya."
"oh, itu.. hmmm ,, gimana mulainya ya neng, coba bentar mas mau rangkai kata-kata dulu, kasih waktu mas buat mikir."
"ya ampun, tinggal cerita gitu doang pake mesti merangkai kata-kata dulu, kamu tuh bukan pujangga, dan aku juga nggak minta dibuatin karya sastra, aku cuma mau kamu cerita, apa susahnya?"
"oke oke,, jadi begini, mas ini anak ketiga dari 6 bersaudara. Kakakku yang pertama yang bapak cerita tadi, yang mau nikah di november ini, kakakku yang kedua yang tinggal di Tangerang sudah berkeluarga punya dua anak. Adik mas persis dibawah mas yang melangkahi mas nikah, terus yang jemput kita tadi di stasiun dan yang paling bontot yanti, cewek satu-satunya. Kamu tahu nggak menurut data statistik angka perceraian di indramayu itu adalah yang tertiggi se indonesia?"
"hah?! masa sih?"
"iya, adikku yang melangkahi aku itu, dia juga bercerai. Kenapa aku nggak cerita sama kamu, karena aku gak mau kamu berpikiran yang enggak-enggak tentang aku, jujur aku takut ini akan mempengaruhi hubungan kita, tadinya sih kupikir gitu. Nah sekarang setelah kamu tahu, kira-kira penilaian kamu terhadap mas gimana?"
"gak gimana-gimana, biasa aja. Karena kalo menurutku, gagal atau enggaknya suatu hubungan atau ikatan pernikahan bukan karena angka statistik atau dari daerah mana dia berasal, tapi melainkan dari pribadinya sendiri, bisa nggak dia membuat hubungan itu menjadi langgeng sampe kakek nenek."
Mas saeful tersenyum.
"Aku kasih tahu ya sama kamu neng, satu kampung ini aja, hampir setiap rumah itu ada orang yang statusnya janda/duda cerai, dan seperti baru kamu tahu juga bahwa memang di kampungku ini mayoritas adalah TKI dan TKW, seperti halnya mantan-mantan iparku. Seperti yang bapak bilang tadi, kakak iparku memang punya anak neng di sana, sementara disini mereka nggak punya anak. Mungkin karena berpisah jauh, dan kita juga gak bisa salahin orangnya, kebutuhan biologis apalagi setelah menikah kan gak mungkin setiap orang bisa tahan. apalagi ini kontraknya lama, minimal dua tahun."
"mas percaya kalo iparnya mas disana selingkuh?" tanyaku.
"ya nggak tahu, cuma kabarnya dia punya anak disana. Makanya langsung diceraikan sama kakakku."
"gimana kalo ternyata dia korban paksaan, mas? gimana kalo ternyata mantan isterinya kakakmu itu jadi korban pelecehan seksual disana? seperti yang sering kita dengar bahwa TKW di arab banyak yang jadi korban pelecehan seksual majikannya sendiri?"
(Mas Saeful terdiam dengar pertanyaanku.)
"kita kan gak tahu keadaan disana kan mas, jadi seharusnya kita gak boleh suudzon. dan yang aku gak habis pikir, kenapa mesti isterinya yang cari nafkah? kenapa bukan kakanya mas? kan itu bukannya tugas dan kewajiban laki-laki untuk mencari nafkah?"
mas saeful kemudian kembali merbahkan tubuhnya..
"Kakaku itu dulu baru dua tahun menikah dia kena PHK, coba nyari kerja kesana kemari nggak dapet-dapet, sementara kan dapur mesti ngebul, bapak bilang mumpung belum punya anak, kenapa gak berangkat aja jadi TKI, tapi kakaku itu nggak punya keahlian, umurnya pun udah gak masuk kriteria, nah isterinya mulai deh mengeluh soal biaya sehari-hari yang memang sering di bantuin keluarganya, keluarga mas juga sering kasih untuk mereka. sampe akhirnya kakak mas nyuruh isterinya jadi TKW, tapi itupun gak ada paksaan. Cuma iseng aja nyuruh, kamu mau gak jadi TKW, tuh temen-temen kamu banyak sekarang yang udah punya rumah hasil kerja di korea dan lain sebagainya, dan akhirnya isterinya pun menyetujui untuk jadi TKW, daftarlah dia, sampai ditempatkan di riyadh, dan akhirnya kejadian lah dia punya anak di sana, baru 18 bulan dia disana waktu dia melahirkan."
Aku membisu cukup lama..
"heh,, neng, kok ngelamun?"
"Terus, adikmu kenapa cerai? kelahiran tahun berapa?"
"umurnya sih sebaya kamu neng, cuma dia dipaksa cerai karena isterinya gak mau disuruh jadi TKW, bapaknya keberatan, akhirnya isteri adikku dijemput pulang bapaknya. Ya memang, adikku itu cuma kerja serabutan neng, cuma lulusan SMP, tapi sekarang lagi ambil paket C. Kasian juga sebenarnya, pilihannya dulu, kalo dia lanjut sekolah, maka mas putus kuliah. Dia ngalah, karena dia sendiri udah gak punya keinginan untuk meneruskan pendidikan. Yang kuliah di keluarga mas cuma mas seorang neng, dulu waktu SMP mas ini salah satu Siswa Teladan se-Indramayu. Mungkin itu yang bikin ibu terus mendorong mas untuk kuliah, dan alhamdulillah mas bisa masuk UI. Hasil kerja keras ibu bapak dan pengorbanan kakak dan adikku."
"Pantas saja ibu kamu ekspektasinya tinggi sekali soal kriteria calon isteri buatmu."
Mas saeful terperanjat, kemudian dia duduk sejajar denganku.
"Maksud kamu apa? Emang ibu tadi ngomong apa?"
"Ibu tadi cerita, katanya calon kamu oke-oke, ada yang kerja di Bank, ada yang pengusaha udah punya mobil dan rumah, ada yang PNS, ada juga yang lulusan Universitas ternama, kata ibu "SELEVEL sama kamu", kalo dibandingkan dengan mereka, apalah aku ini mas. aku gak punya sesuatu yang bisa di banggakan. lagian, kok kamu mau sih sama aku?"
"neng, jangan gitu ah..!"
"mantan kamu yang dulu, yang perawat itu, apa dulu ibu tahu tentang dia?" tanyaku.
"ibu tahu, malah dulu sering telponan sama ibu, tapi belum sempat mas ajak ketemu ibu. cuma ngobrol ditelpon doang."
Dasar mas saeful itu, dia itu gak pernah peka, gak tahu apa dia kalo aku cemburu?
"pantas aja ya, kalau dibandingkan dengan mereka, aku sih gak ada apa-apanya."
"Denger ya cintaku, kamu gak usah dengerin apa yang ibuku bilang. mungkin ibuku cemburu, karena anak kebanggaannya sudah ada yang punya." dia berkata sambil memencet hidungku.
"ibuku memang begitu tabiatnya, judes. Malah sama tetangga sebelah juga gak akur, beberapa minggu kemaren mas sempet ketemu sama anaknya tetangga sebelah dijakarta, dia minta tolong sama mas untuk mendamaikan ibu sama tetangga sebelah itu, mereka katanya ada konflik lagi, mas akhirnya pulang, terus mas tanya ibu baik-baik, ada masalah apa sebenarnya, kenapa sampai gak bisa akur sama tetangga sebelah? masalahnya simple sih, tetanggaku pasang pagar, katanya melewati batas tanah pekarangan rumah ini. Tapi menurut mas sih gak gitu, gak tahu mungkin mas nya gak tahu batas-batas tanah sini. Tapi ya mas bilang sama ibu untuk berhenti gak usah berantem lagi, kan malu sama tetangga sendiri, tetangga itu kan ibaratnya saudara terdekat kita, kalo sama tetangga gak akur nanti kalo ada apa-apa mau minta tolong siapa."
"Mas mau mandi dulu sekalian ashar, habis ashar mau ke rumah mas Alex, mau ikut nggak neng?"
"Mas Alex itu siapa?"
"itu yang punya toko bahan-bahan bangunan, mas mau bayar material yang kemaren buat renovasi rumah, sekalian beli plafond, jadi biar cepet selesai ini rumahnya."
"Mas yang biayain semua?"
"Sebagian besar, sebagian lagi dari kakaknya mas yang di tangerang, jadi gimana? ikut nggak?"
"ikut!"
"ikut kemana? kamar mandi?"
"yee, maunya!! Ikut ke tempat mas Alex lah."
"ya udah, nanti sekalian pulangnya kita mampir dulu ke pasar malam ya, kata naila ada di dekat balai desa."
"oke" aku jawab dengan nada kurang antusias.
"neng,, apa yang ibuku bilang tadi, jangan dipikirin ya?!." ujar mas saeful sebelum dia berlalu ke kamar mandi, meninggalkan aku yang duduk mematung diatas sajadah.
Sore itu kami pergi ke tempat mas Alex, setelah selesai urusannya mas Saeful mengajakku makan mie ayam langganannya dulu. Tukang mie ayam itu namanya mas Yanto.
"Pie kabare mas?" mas saeful menepuk pundak tukang mie ayam itu.
"Wuiihhhh,, ada pak bos toh, lagi mudik sampeyan? apik mas.. sampean apa kabar nya?"
"Alhamdulillah baik, iya nih mulih bentar mas sambil bawa ini nih." matanya mas saeful melirikku.
Mas Yanto melirik aku dan bertanya sama mas saeful, "Sopo iki? calon mu toh?"
"kenalin neng, ini namanya mas Yanto, beliau ini pedagang ulet, saking uletnya sekarang udah jadi bos, warung baksonya aja udah punya beberapa cabang."
"weee bisa aja, panjenengan iki lho yang udah dadi bos. oalah, ayu tenan bojomu mas."
Aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka, karena bahasa mereka gak begitu aku mengerti.
"o iya, pesen dua yo yang spesial.."
"siap pak boss.."
Sepulang dari warung bakso mas yanto, kami berdua mampir dulu ke pasar malam, hanya berkeliling sebentar dan membeli kue pancong buat di rumah.
"Kalo di bandung ini namanya kue Bandros"
"oya? disini namanya kue pancong, ibu suka banget neng sama kue pancong ini."
"tapi rasanya masih lebih enak yang di bandung, yang di bandung nggak bantet kayak gini, ini sih keras kue nya, kelapanya juga dikit."
"ya kalo dibandingkan dengan yang di bandung pastilah kalah, bandung kan tempatnya wisata kuliner, jadi wajar kalo makanannya enak-enak, kalo indramayu kan kota nya mangga."
"bukan, kota TKI/TKW." pungkasku.
mas saeful merangkulku dan mencubit pipiku gemas.
Setelah pesanan kue pancong kami jadi, kami pun berlalu pulang ke rumah mas saeful. Sewaktu di motor dia kembali melirik ke bungkus plastik yang isinya kue pancong tersebut.
"si bapak penjual kue pancong itu gak tahu apa ya kalo makanan itu gak boleh langsung dibungkus pake keresek warna hitam, ini kan karsinogen, harusnya dikasih plastik yang bening dulu gitu, yang khusus buat makanan." ujarnya.
"ya ampun mas, itu si bapak tukang kue pancong kalo dia pinter, dia gak akan jadi tukang kue pancong kali, mungkin dia jadi pejabat, atau boss pembuat plastik kemasan. Ya udah sih, di maklum aja, namanya juga orang dusun, gak banyak tahu, mungkin dia juga gak tahu apa itu karsinogen."
"iya ya, kadang-kadang kamu pinter juga neng."
"kok kadang-kadang sih? udah dari lahir kali." aku bersahut kesal, sementara dia hanya ketawa.
Malam harinya rumah mas saeful kedatangan tamu, mereka teman-temannya mas saeful sewaktu sekolah dulu. Rumahnya pun berdekatan, mereka mendengar kepulangan mas saeful sehingga menyempatkan waktu untuk bertemu dan melepas rindu. Mas saeful mengenalkanku kepada teman-temannya itu, kami sempat ngobrol sebentar sampai akhirnya aku undur diri ke ruang sebelah, bukan maksud menghindar dari mereka hanya saja aku kesulitan memahami bahasa jawa. Aku sama sekali nggak ngerti bahasa jawa, sementara mereka gak fasih berbahasa indonesia.
Diruang tengah ada naila yang sedang memijat ibunya mas saeful. Melihat aku masuk, ibunya mas saeful meminta naila untuk berhenti memijatnya, beliau bertanya apakah aku sudah makan, dan menyuruhku makan. Kemudian aku jawab nanti saja bareng sama mas saeful. Sepertinya ibunya benar-benar gak suka sama aku, baru sebentar aku diruangan tengah itu, ibu masuk ke kamar. Tinggalah aku berdua dan naila, lagi. Kami nonton TV berdua, sesekali bercanda. Naila itu anak yang menyenangkan, dia itu periang sekali, meskipun jauh dari orangtua, tapi sepertinya itu gak jadi beban pikirannya. Aku penasaran, seperti apakah yanti? apakah dia seperti Naila juga? katanya Yanti cerdas, apa Yanti juga ramah seperti Naila? atau malah judes kayak ibu?
"Besok Yanti pulang mbak, tadi bude udah telepon suruh Yanti pulang, kenalan sama mbak."
"o ya?"
"iya."
Hemm.. sepertinya kita akan segera tahu tentang sosok yanti adik kesayangannya mas saeful, semoga saja dia baik seperti Naila, atau bahkan lebih baik dari Naila..
Langganan:
Postingan (Atom)