Hari Minggu Di Indramayu

Sabtu malam minggu di indramayu. Sehabis sholat isya aku, mas saeful, bapak, naila serta bude ngobrol di teras rumah. Walaupun udah malam tapi udaranya tetap panas, dan yang membuat aku gak tahan adalah nyamuk yang seliweran silih berganti. Mereka seolah-olah merayakan kedatanganku ketempat itu, mungkin sambil bersorak "mangsa baru, untuk diserbuuu!"

Sesekali bapak menertawakan aku yang sibuk nepuk-nepuk tangan, lengan dan semua anggota badan yang dihinggapi nyamuk, kemudian bapak masuk ke kamar tak lama beliau keluar lagi, kali ini bapak membawakan lotion pengusir nyamuk.

"nih neng, kasih ini biar gak di gigitin nyamuk terus.." bapak mengulurkan lotion anti nyamuk itu kepadaku.
"wah makasih pak, ngerepotin jadinya."
"ah enggak, cuma lotion doang. Disini ya gini, banyak nyamuk."
"iya ya pak, padahal tadi sebelum sholat maghrib saya mandi dulu."
"mungkin neng mandinya ada yang kurang, jadi masih dihinggapi nyamuk."
"kurang apa mas? kurang bersih maksudnya? kan tadi udah pake sabun, udah bersihlah."
"bukan, bukan sabun."
"terus apa dong?"
"kurang kembang, harusnya mandi pake air kembang baru nyamuknya pada kabur."
"iisshhh kayak lagu dangdut aja."

Semua orang tertawa dengar candaan aku dan mas saeful. Tapi tidak dengan ibu, dari tadi ibu hanya diam di ruang tengah, seperti tidak mau bergabung dengan kami. Bilangnya sih sakit kepala.

Sebenarnya kalo dibandingkan dengan ibu, bapak jauh lebih ramah terhadapku, kami diteras asik mendengarkan cerita bapak yang kerjanya sudah kemana-mana. Bapak mas saeful itu seorang mandor bangunan yang sering mengawasi para pekerja membuat gedung-gedung perkantoran, apartement dan lain-lain.

"Bapak pernah enam bulan di bandung neng, dulu bangun hotel disana. Jadi bapak bisa sedikit-sedikit bahasa sunda."
"o ya? dulu bandungnya dimana pak?"
"daerah setiabudhi neng, yang mau ke gunung perahu itu lho."
"tangkuban perahu pak." serentak aku dan mas saeful mengkoreksi kalimat bapak.
Naila dan bude tertawa lepas, mendengar kami mengkoreksi bapak.
"ciee,, mbak sama mas, kompak banget, ciee, gitu ya bude kalo sudah jodoh pasti kompakan kayak gitu." kata naila.
bude tertawa sesekali menimpali candaan kami dengan bahasa jawa yang aku nggak ngerti artinya. 

Sudah hampir jam 9 malam, bude pamit pulang kerumah untuk istirahat, menyusul bapak yang masuk ke kamar. Tinggal aku, mas saeful dan naila. 
"Nai, tidurnya sama mbak aja ya, di kamar yanti." bujukku ke naila
"nggak ah mbak, naila biar tidur di rumah aja."
"kamu gak takut apa?"
"ah dia sih udah kebal neng, emangnya kamu, penakut."
"iihh bukan gitu mas, kasian naila kan klo cuma tidur sendiri, dirumah yang belum jadi lagi,"
"iya nai, tidur sama mbak aja, kali ini mas ijinin, tapi nanti mas gak akan kasih ijin, karena kalo sudah nikah mbak harus tidur sama mas."
refleks aku mencubit perutnya mas saeful ketika aku mendengar kalimat itu. Dan dia hanya tertawa.
"tapi nggak enak ah mbak, nai takut ganggu tidurnya mbak."
"enggaklah, yah tidur disini aja ya."
"ayoo tidur aja disini, udah biar nanti rumah itu mas yang kunci, eh mending sekarang aja deh mas kuncinya. Mas keluar dulu ya neng, kamu disini aja bareng mbak ya Nai." mas saeful beranjak mengambil kunci rumah nai dan pergi kebelakang untuk mengunci rumah itu.
Aku dan naila kembali keruang tamu, kami duduk duduk disana sampai mas saeful kembali kerumah.
"Udah mas?" tanyaku.
"udah."
Naila menguap..
"kamu duluan tidur aja nai kalau sudah ngantuk."
Naila tersenyum sungkan.
"gak apa-apa, nanti mbak nyusul."
"iya deh mbak." naila berdiri dan berlalu masuk ke kamar yanti.
Tinggal aku berdua dengan mas saeful.
 "Naila itu setiap hari tidur sendiri dirumah, emang gak khawatir apa mas?"
"Mas sudah suruh naila tempatin kamarnya mas, kalo misal dia mau tidur disini. tapi dianya gak mau. padahal kamar yanti kosong, kamar aku kosong juga. Adikku sm kakakku yang duda duda itu kan sudah gak tinggal disini."
"kenapa ya dia gak mau?"
"Gak tahu,  tapi mas merasa aneh tadi pas liat kamu sama naila, kok naila sama kamu bisa langsung akrab gitu ya."
"emangnya naila gak gampang akrab gitu?"
"Biasanya suka malu gitu orangnya, shy shy cat."
"hah? apaan?"
"malu malu kucing.. hahaha."
"iisshhh,, dasar canda mulu! tapi kalo menurutku enggak gitu ah, dia orangnya riang kok. Tadi aja ngobrol banyak sama aku."
"ngobrol banyak?"
"hu'um, tadi siang."
"ngobrolin apa aja?"
"ya cita-citanya dia yang mau jadi TKW, atau kalo menurutku sih bukan cita-cita ya, malah kayak sudah mindsetnya dia. Kalau sudah lulus daftar ke PJTKI atau agen penyaluran TKW lalu jadi TKW, sama kayak ibunya."
"hu'um ,, kasian ya.."
"emang kamu gak ada minat buat bantuin dia biaya kuliah gitu?"
mendengar itu mas saeful tersenyum
"Neng, tanggungan mas sudah banyak, kapan mas bisa nabungnya? yang akan dihadapi mas ini sekarang adalah biaya kuliahnya yanti, uang sakunya juga, belum lagi biaya kost, dan uang bulanan untuk ibu disini, tambah lagi ini rumah belum sepenuhnya selesai, yah mungkin nanti kalau rumah selesai, kalo yanti juga udah sattle kuliahnya, lagian kan Naila masih kelas dua, masih ada waktu buat mas pikirin kedepannya, karena jujur kalo mesti kayak ibunya, mas juga gak tega."
"Mas.."
"ya cinta?"
"Seandainya nanti kamu kena PHK, terus aku juga gak kerja, kamu mau nyuruh aku jadi TKW juga?"
Tertawa.
"Kamu kok mikir ke situ sih? Ya enggaklah, kalaupun nanti mas kena PHK atau mas dipindah kerja ke daerah lain, mas akan bawa kamu kemana pun mas pergi, gak akan mas tinggalin, apalagi ditinggal berjauhan, enggak. Tempat kamu itu dideket mas, disini, disampingnya mas, gak boleh kemana-mana."Mas saeful merangkul bahuku, dan aku bersandar dibahunya.
"kamu kepikiran apa yang bapak bilang tadi soal iparku yang TKW ya?"
aku menjawabnya dengan anggukan.
"Jangan khawatir neng, aku bertekad untuk merubah nasib. Di indonesia ini masih banyak kok pekerjaan kalau kita mau berusaha cari, kita pun bisa kok jadi pengusaha kalau kita mau berusaha, jadi mas rasa gak perlulah sampai harus pergi keluar hanya untuk cari rezeki. Kamu pun kalau nanti misal sudah menikah mau stay aja di rumah jadi ibu rumah tangga, mas lebih bersyukur lagi. Tapi kalau tetep mau berkarya ya mas gak keberatan juga."
Kami sama-sama terdiam beberapa saat, sampai mas saeful menyuruhku tidur.
"udah malam neng, tidur sana. Mas juga udah ngantuk, mas periksa dulu pintu sama jendela, takut ada yang belum dikunci."
"ya udah, tidur ya mas.. see you tomorrow."
"will see you soon dear. Have a nice dream." 

Pukul 2.15 dini hari, aku terbangun gara-gara ada suara teriak-teriak entah dari mana. Bulu kudukku berdiri, aku takut, keringat dingin membasahi keningku. Itu suara cowok, dia teriak "Allahu Akbar!!, Astagfirulloh hal adzim, tolooooongg." berulang-ulang, seperti dia sedang dikejar sesuatu, lalu minta tolong. Aku yang takut, membangunkan Naila yang tidur persis disampingku.
"Nai, bangun.. itu suara apa? Nai bangun nai, please!" Aku berusaha membangunkan naila, tapi sepertinya naila tidur cukup nyenyak. Dia seperti tidak terganggu suara itu, seperti tidak mendengar, apa jangan-jangan cuma aku saja yang mendengar suara itu?
"Nai, tolong dong nai, banguunnnn pleaaassseeee..!!" aku mulai panik,badannya naila aku goyang-goyang agak keras, biar dia bangun."
"Kenapa mbak?" suara naila parau.
"Ssttt,, kamu denger itu? itu suara apa? aku takut Nai" aku bertanya sambil menggenggam lengan naila.
Naila tampak mengamati sekitar, kemudian dia tersenyum.
"Kalo bukan pakde yang ngigau, berarti itu suara mas saeful yang ngingau."
"Hah?! ngigau?" OMG!! Unbelievable, kalau memang benar itu yang ngigau mas saeful, berarti tiap malem nanti siap-siap deh aku kebangun gara-gara kebiasaannya itu.
Aku jadi teringat mama, waktu itu mas saeful nginep dirumah, dia tidur di rumah sebelah, bukan rumah utama, sementara aku dan mama tidur dirumah utama. Mamaku setiap hari bangun jam 2 pagi untuk sholat malam. Waktu itu mama bilang, kalo mama samar-samar mendengar ada yang teriak-teriak minta tolong, awalnya mama pikir mungkin papa yang lagi mimpi tapi pas liat papa tidur nyenyak itu mematahkan sangkaan awalnya. Jangan-jangan memang benar, mas saeful yang ngigau waktu nginep di rumah.

Setelah suara itu reda dengan sendirinya, aku kembali tertidur. Jam 04.45 pagi, aku tebangun. Rupanya Naila udah bangun duluan. Seperti telah menjadi kebiasaan, setiap bangun subuh-subuh aku langsung mandi, kemudian sholat subuh. Selesai sholat, aku kemudian mencari keberadaan naila di dapur, tapi yang kutemukan hanya ibu.
"Mau minum apa neng? biar nanti ibu bikinkan."
"Gak usah bu, biar saya bikin sendiri. Kepalanya sudah gak sakit lagi bu?'
"udah sembuh, semalem minum obat langsung tidur. Nih kalo mau bikin kopi atau teh, ada di rak sini ya, itu toples-toplesnya, tapi disini gak ada susu."
"iya bu gak apa-apa, o iya Naila kemana ya bu? pagi-pagi udah ngilang aja."
"Naila lagi dibelakang, ngerendem cucian."
"Oohh.."
"Soalnya nanti Yanti bawa baju kotor, jemurannya kepenuhan, jadi harus dicuci sebagian dulu sambil nunggu yang lain kering, baru cuci baju yanti."
"Naila yang cuciin bu?"
"Iya kadang-kadang, yanti itu gak biasa nyuci, biasa ibu yang cuciin bajunya yanti."
"oohh.."
"Ibu lagi bikin apa?"
"Lagi mau bikin sayur sop."
"Saya bantuin ya bu."
"Gak usah neng, kamu duduk aja."
"Gak apa-apa bu, biar saya bantu motong sayurnya ya bu."
"Bisa masak neng?"
Mampus kan?! Ini pertanyaan yang bikin aku horror. Aku gak bisa masak, bukan gak bisa sama sekali, tetapi gak bisa karena tidak terbiasa masuk dapur. Masak pun harus ditemani contekan resep, hasilnya seperti apa? Papa bilang rasanya aneh.
"ehm aaku gak terlalu pandai masak bu." Jawabku terbata-bata.
"lah terus kalo makan gimana?"
"beli yang sudah jadi bu, karena pulang kerja udah capek duluan kalo mau masak, maunya tinggal makan." jawabku sambil nyengir, sementara ibu tersenyum sinis. 

Pukul 6 pagi, kok aku belum liat mas saeful ya..
"Neng, sudah minum belum? Sarapan?" bapak menghampiri kami.
"Ini sarapannya baru jadi pak." Sahut ibu
"O ya, ini yang masak neng ya?"
"Bukan pak, cuma bantuin ibu motong sayur aja tadi." Jawabku malu-malu.

"Tangan halus kayak gitu keliatan toh pak jarang masuk dapur." 
DEG... Aku bener-bener dihabisi ibu dua hari itu. Aku hanya tersenyum saja, walau didalam hati menjerit.
"Epul mana ya? udah bangun belum?"
"Belum lihat dari tadi pak."
"Wah jangan-jangan belum bangun. Coba neng tolong gedor pintunya epul."
Aku segera menuju ke kamar mas saeful, rupanya pintunya terbuka dan ternyata dia masih tidur.
"Mas, bangunn.. iihhh gak sholat subuh apa ya? mas, banguuunn!!!" 
"Apa neng?"
"Udah siang, udah jam 6 ini, kamu gak sholat subuh?"
"iya bentar lagi."
"Mas, aku boleh tanya?"
"Apa?" Sambil merem.
"Tadi malem kamu mimpi apa? kok sampe teriak-teriak minta tolong?"
"hah? siapa?"
"kamu..!!"
"masa sih neng?"
"iya, aku ketakutan tau! tanya naila, dia sampe aku bangunin tidurnya."
"Gak tahu, tadi malem mas gak mimpi apa-apa."
"iihhh,, dasar!! udah cepet bangun sana,, mu sholat jam berapa?"
"iya bentar lagi.."

"astagfirulloh, udah siang, cepetan sholat."
 "iya iya aahhh.." bangkit dan berlalu
Pagi itu aku kesal, kesal karena dihabisin ibu, kesal karena ternyata calon imamku sholat subuhnya kesiangan, kesel karena ternyata aku bukan calon mantu idaman.

Pagi itu rusak sudah moodku, rasanya pengen secepatnya pulang ke bandung. Pukul 7.30 pagi, selesai sarapan ada yang datang, rupanya itu yanti.
Kami dikenalkan ibu, bersalaman canggung, untuk kemudian masuk ke kamar ibunya. Yanti tidak seperti Naila yang ramah, dia lebih tertutup, dan sepertinya akan susah beradaptasi dengan sosok seperti yanti ini.
Saat keluar kamar ibu, yanti cuma memberikan tas yang berisi pakaian kotor kepada naila untuk dicucikan, iya.. Naila yang cuci bajunya yanti setiap minggunya. 

Kenapa waktu seakan bergerak lambat disini? keretaku berangkat jam 11.15, dan sekarang baru jam 8 pagi. Baju-baju sudah aku rapihkan dan dimasukan ke tas, tinggal pergi.
Tiba-tiba mas Saeful datang, dia ajak aku ke rumah temannya dibelakang, daripada aku diem dirumah mending aku ikut mas saeful, males juga aku berhadapan sama ibu.

Ternyata itu temannya mas saeful yang semalem, mereka ngajakin mas saeful main tennis meja. Lumayanlah killing time, jadi nunggu pulang juga  gak terlalu kerasa kalo liatin dia main tennis meja, tahu-tahu udah jam 9.30 aja. Kami pun berpamitan sama teman-temannya mas saeful.
Sampe rumah, aku segera bersiap untuk pulang. Rupanya sesuai janji bapak kemaren, bapak sudah siapkan dua kardus "oleh-oleh", yang satu untukku dan keluarga, yang satu lagi untuk kakaknya mas saeful yang di tangerang.

Pukul 10 pagi, kami sudah siap berangkat.. Bapak tanya apa aku pulang ke bandung sendiri atau diantarkan dahulu oleh mas saeful. kemudian mas saeful menjawab, mau mengantarkanku terlebih dahulu ke bandung sebelum akhirnya pulang ke tangerang. Kemudian ibu menghampiri mas saeful dan berbisik, entah apa yang diucapkan beliau, disusul dengan anggukan mas saeful. Kami pun berpamitan sama ibu, bapak, naila dan yanti. Lagi adiknya mas saeful mengantar kami dengan dua motor, satu dibawa adiknya mas saeful dan temannya, dan satu motor lagi dipakai aku dan mas saeful. Sampai stasiun, mas saeful berpamitan dengan adiknya, sementara aku cuma bersalaman, bahkan sampai hari ini pun aku gak tahu siapa namanya,, mas saeful jarang sekali menceritakan adik-adiknya, kecuali yanti. 
Waktu keberangkatan telah tiba, kami naik ke gerbong kereta dan kembali duduk persis di seat yang sama ketika kami berangkat kemaren. Sungguh kebetulan sekali.

Tidak seperti biasanya , kali ini mas saeful banyak diamnya. Aku merasakan ada hal yang aneh, apalagi ketika aku melihat ibu berbisik sebelum kami berangkat, it makes me corius bin kepo. Tapi sepertinya mas saeful sedang gak mood untuk mengobrol, ya sudah.. toh moodku udah jelek dari semenjak ketemu ibu.
Segera setelah kereta meluncur di rel nya, aku tenggelam dalam lamunanku.. sambil menikmati pemandangan sawah sejauh mata memandang.

"Heh!! anak gadis gak boleh keseringan ngelamun lho."

Aku tersadar dan menoleh ke mas saeful. Kereta yang kami tumpangi sepi penumpang, sehingga seat didepan kami kosong, hanya ada beberapa orang di gerbong yang kami tumpangi siang itu.

"Kamu ngelamunin apa sih neng?"
"Gak ada, mas sendiri tadi ngelamunin apa?"
"Siapa bilang mas melamun? emang mas melamun gitu?"
"Iya, mas melamun. Tadinya mau diajakin ngobrol, tapi liat mood kamu kayak yang lagi bete jadi aku urungkan deh ngajakin ngobrolnya."
"Mau ngobrol apa sih emangnya?"
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa aja boleh neng."
"Tadi dirumah, ibu bisik-bisik sama kamu.. ibu bilang apa?"
"kepo!"
"Iihhh,, ya jelaslah aku kepo, orang bisik-bisiknya didepan aku. Katanya dosa tau bisik-bisik di depan orang, nanti bisa bikin orang itu tersindir atau muncul prasangka yang gak baik."
"Masa sih?"
"Iya! ada di al-qur'an, mau bukti?" Kemudian aku membuka aplikasi al-quran di handphone dan membacakan kepada mas saeful arti dari sebuah ayat. 
"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan Kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal." (QS. Al-Mujadilah:10)


Mas saeful terdiam beberapa saat..

"Tumben kamu pinter .. Tadi sebelum kita pulang, ibu sempet ngobrol dulu sama mas, ibu tanya kenapa mas mau nikah cepet-cepet, apa gak mau beli rumah dulu. Kemudian mas bilang kalo mas udah kepengen nikah, udah pengen hidup tentram, udah cukup juga umurnya. ya akhirnya ibu mau terima kata-kata mas. Kemudian tadi ibu berbisik ke mas, katanya jangan sering-sering maen ke bandung."
"Kok gitu?"
"Ya mungkin ibu gak kepengen nanti keluarga kamu kena fitnah karena sering kedatengan laki-laki sebelum setatusnya jelas gitu lho."
"Tapi kan status kita jelas kan?! mas kita udah mau menikah. Lagian juga kamu tidur dirumah sebelah bareng adikku si aa,, apanya yang jadi fitnah?"
"Iya iya,, mas iyain aja apa kata ibu."
Aku sewot denger cerita mas saeful barusan, aku sengaja pindah seat karena aku jengkel sama ibunya mas saeful. Mungkin mas saeful tidak enak hati melihat ekspresiku yang cemberut karena kesal.

Kami tidak saling berbicara untuk beberapa saat, dari semenjak berkenalan sampai hari itu, baru kali itulah aku dan mas saeful bersitegang, walaupun boleh dibilang skalanya kecil. Kami belum pernah bertengkar, semuanya adem ayem sampai akhirnya aku datang kerumah orangtuanya.

Waktu kereta sampe di daerah purwakarta, handphone mas saeful berbunyi, kemudian dia tersenyum. Dia pindah duduknya dekat dengan aku, kemudian dia menunjukan handphone nya sambil membujuk aku supaya gak marah lagi.

"Liat deh, ini rumah di tangerang, daerah babakan, katanya mau di kontrakin, kayaknya cocok buat kita ya?! mungil. Gini aja, mas kan dilarang sama ibu untuk sering-sering ke bandung. Gimana kalo neng aja yang ke Tangerang? kita liat rumah ini yuk? Minggu depan yah? mau yah? mau kan? mau dong?" Mas saeful merayu.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Udah yah, jangan ngambek lagi. Mas gak betah liat kamu bete terus kayak gitu. O'iya sekalian hari sabtu kan temen mas ada yang Nikah, nanti neng temenin mas ke nikahannya ya, sehabis dari acara nikahan kita liat rumah ini. Semoga cocok."
"Aamiin.." Aku mengaminkan kata-kata mas saeful.

Jam 2.08 kereta kami tiba di stasiun bandung, kami bergegas turun dan mencari mobil mas saeful yang diparkir di depan stasiun. Saat di mobil rasa kesalku belum sepenuhnya hilang, aku memilih tidur sepanjang perjalanan dari stasiun ke kost-an. Sampai akhirnya dia membangunkan aku karena kami sudah tiba di kost-an. Mas saeful menurunkan kardus yang berisi oleh-oleh buah mangga dari bapak, isinya banyak sekali. Aku naik ke atas dan membuka kunci ruang paviliun pondok pak ondo, tempat kost-ku. Sambil mas saeful beristirahat tiduran di karpet, aku membuka kardus oleh-oleh dari bapak, aku bawa beberapa buah mangga untuk aku berikan kepada keluarga ibu dan bapak di bawah.

"Itu mau dibawa kemana neng?" Mas saeful bangun dan kemudian duduk bersila.
"Mau kasih ke ibu di bawah, ini kebanyakan kalo untuk mama papa sih."
"Oohh, iya.." Mas saeful tersenyum.

Aku turun ke bawah, kerumah ibu. mengetuk rumahnya, ternyata ada anak-anaknya ibu sedang berkumpul.

"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam,, eh neng, masuk." ibu membukakan pintu dan menyuruhku masuk.
"Disini aja bu, ini ada sedikit oleh-oleh bu dari indramayu."
"Wah, meuni ngarerepot.. ini buah mangga indramayu?"
"iya bu." 
"Oh eneng habis dari indramayu, habis liburan?"
"Enggak bu, habis dari rumahnya orangtua mas saeful."
"oh mas itu teh calonnya eneng?"
"hehe insyaAllah bu, pidu'ana."
"Aamiin.. Sok ku ibu di do'ain biar lancar sampe hari-H na nya. Hatur nuhun atuh neng, ini oleh-olehnya ditampi ku ibu, Jazakillah khoir nya geulis."
"iya bu, sami-sami. Kalo gitu, saya ke atas lagi ya bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."

"udah neng?"
"udah. Mas mau minum apa?"
"Bikinin mas kopi deh, biar nggak ngantuk nanti diperjalanan."
"laper nggak? mau dibuatin makanan nggak?"
"emang ada makanan?"
"ada mie sih, sama ada telor di kulkas."
"nggak deh, masih kenyang sama nasi goreng di kereta tadi. Kopi aja ya."
"oke!"
"Makasih ya cinta. Mas kayaknya pulang sehabis ashar aja ya, gak apa-apa kan?"
"iya."


Sore itu sehabis ashar, mas saeful pulang ke Tangerang. Sementara aku minta si aa, adikku, untuk menjemputku pulang kerumah. Aku pulang kerumah sore itu dan berencana cuti kerja esok harinya. Entah kenapa moodku belum juga membaik, mungkin setelah pulang dan bertemu orangtua nanti, hatiku bisa sedikit lebih tenang.