10 menit yang melelahkan..
Berjalan gontai seperti membawa puluhan kilo beban, padahal hanya membawa badan. Heumm apa iya badanku bobotnya sudah mulai kelebihan?!
Hari senin kedua dibulan Januari 2018, kembali pulang ke paviliun mungil dilantai dua rumah pak RT.. Pondok Pak Ondo kuberi nama. Tak terasa sudah 5 tahun lebih aku menetap disini.
Kalau aku ingat lagi alasan kenapa ngotot sekali untuk pindah kost dari tempat lama waktu itu, tak lain dan tak bukan adalah aku ingin melupakan dan mengubur semua kenangan dan jejak yang ditinggalkan oleh dia di tempat itu.
Kenangan buruk tentang kamu, laki-laki berjacket biru. Kenangan yang sebenarnya indah tapi berubah menjadi mimpi terburukku.
5 tahun lebih.. Sepertinya aku telah bisa melaluinya. Bahkan jika kusebut namanya, rasanya tak sesakit seperti kala itu.
Lebih dari 5 tahun yang lalu, ibu dan bapak kost menyambutku dengan hangat. Satu yang sangat aku suka dari tempat ini, karena mereka, pemilik rumah yang sangat ramah. Sampai ketika dua tahun kemudian ibu pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Meninggalkan kami dan pondok ini, menuju pembaringan terakhirnya.
Kehilangan?
Sudah pasti! Ibu yang selalu mengetuk pintu kamarku pagi-pagi sebelum aku berangkat kerja, sambil membawa sepiring nasi goreng, atau semangkuk bubur ketan hitam, atau beberapa potong pisang goreng yang sengaja ibu kasih untuk sarapanku katanya. Sungguh membuatku terharu..
Ditempat ini aku sempat merenda harapan akan masa depan. Masa depan antara aku dan mas saeful. Menikah, honey moon ke Lombok, kemudian ikut pindah dan tinggal dengan mas Saeful di Tangerang. Ditempat ini aku membakar semua harapan semu itu, harapan yang tak pernah terwujud.
Ditempat
ini pula aku mendengar bnyak kabar tentang kelahiran. Kelahiran cucu
sang pemilik rumah, bahkan dua kali dalam rentang waktu 3 tahun. Berita
kematian serta kehilangan. Bahkan akupun kehilangan orang-orang yg
berarti, datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang benar-benar
tinggal..
Aku berjumpa dengan mas Saeful tanpa sengaja. Pada pertengahan bulan April tahun 2014. Saat itu kebetulan aku sedang cuti kerja dan siang-siang mampir ke sebuah mall, ceritanya sih mau cari makan siang sambil hunting novel ke sebuah toko buku di mall tersebut. Tanpa sengaja aku bertemu Yudha, temanku waktu kuliah, kami memang belum pernah satu kelas, hanya saja satu jurusan dan angkatan yang sama.
Ketika aku berjalan masuk ke sebuah resto di mall tersebut, yudha datang menghampiri. Kaget, ternyata yang menepuk bahuku itu temenku waktu kuliah, dia pun akhirnya mengajakku bergabung makan siang bersama. Dan pada saat itulah, aku bertemu dengan mas Saeful. Dia boleh dibilang rekannya yudha, hanya beda divisi. Yudha mengenalkan kami. siang itu kami berbincang, ternyata mereka sedang ada tugas di bandung. Setelah perjumpaan aku, yudha dan mas saeful, beberapa hari kemudian yudha contact aku via bbm. Dia bermaksud meminta ijin untuk memberikan nomor telpon serta pin bbm kepada mas saeful. Yudha bilang mas saeful yang minta, dan yudha gak berani kasih sebelum minta ijin dulu sama aku. Kemudian aku ijinkan, gak ada salahnya juga bertambah teman. Mas Saeful itu ternyata Ass Manager di perusahaan tempat yudha kerja, dia tinggal di tangerang, kost. Karena rumah orangtuanya ternyata di Indramayu.
Gak berapa lama mas saeful pun invite bbm ku. Mulai saat itu kami pun intens berkomunikasi, bahkan tanpa terasa kami sudah boleh dikatakan pacaran, sampai akhirnya mas Saeful memintaku untuk menikah.
"Neng, nikah yuk?" begitu katanya, padahal kami baru 3 bulan jalan.
Aku pikir kenapa Enggak?! toh kami sudah sama-sama dewasa, sudah merasa sama-sama cocok. Benarkah?
Aku menerima ajakan mas Saeful, asal kita menikah di bulan Oktober. Kenapa harus Oktober? Karena pada bulan itu Mamaku berulang tahun, dan aku ingin mempersembahkan pernikahanku itu agar menjadi hadiah terindah untuk mama. Mengingat selama ini mama selalu berharap agar anak sulungnya cepat menikah.
"Setelah nikah nanti, mas pengen kita pergi ke lombok, ke Gili Trawangan. Tempat itu bagus neng, romantis.. pasti cocok buat kita honey moon kesana nanti."
"emang ada uangnya mas?" tanyaku.
(Bodohnya pertanyaanku itu, masa iya seorang assmen di sebuah perusahaan asing gak punya uang hanya untuk pergi liburan ke lombok seminggu?!)
"Tenang aja, mas udah siapin kalau untuk itu sih.., selain itu mas juga dapet resort recomendasi dari temen, resortnya bagus katanya kalo untuk pasangan pengantin baru." tersenyum.
Aku denger itu kok malah tambah ngebet pengen nikah, hahaha.
"Habis itu, kita jangan lama-lama tinggal dirumah orangtua ya, kalo misal sehabis acara nikahan, dua hari kemudian kita pindah ke Tangerang kamu mau nggak?"
"Mau, nanti aku apply juga ah di tangerang. Jadi kamu kerja, aku juga kerja."
"Kamu gak apa-apa gitu tinggal jauh dari orang tua kamu?"
"selama ini juga kan aku tinggal sendiri, kost. Ya walaupun gak terlalu jauh sih dari rumah, tapi setidaknya aku sudah terlatih hidup sendiri."
"iya mas percaya kamu perempuan mandiri."
"aku sih asal jangan tinggal sama mertua aja."
"ya nggak mungkinlah, orangtuaku kan tinggal di indramayu, sementara kantorku kan ditangerang. Nanti deh mas coba cari-cari rumah yang dikontrakin, kecil dulu gak apa-apa ya? ngontrak dulu gak apa-apa ya?"
"gak apa-apa masku, aku sih seneng selama kita jalanin berdua dan gak ada yang intervensi dari sana sini." -sepakat-
Mas Saeful dalam sebulan dua kali visit aku di bandung, kadang kerumah ketemu mama papa, kadang hanya jalan di bandung aja, nemenin nonton, makan dan hunting novel. Setelah mas saeful memintaku untuk menikah, aku ajak mas saeful bertemu kedua orangtuaku untuk membicarakan hal tersebut.
"Yah beginilah kami mas, bukan dari keluarga berada atau keluarga kaya, cuma keluarga sederhana" begitulah kalimat introduction andalan papa ketika berhadapan dengan cowok yang aku ajak kerumah, dan ini kali kedua papa bilang seperti itu setelah sebelumnya pernah bilang hal yang sama kepada cowok berjacket biru.
"Si Teteh ini anak pertama, punya adik tiga orang. yang satu sudah lulus kuliah, cewek, yang masih kuliah cowok, dan yang paling kecil masih SD cewek."
Papa mama sangat welcome sama mas saeful, they treat him very well.
"Jadi begini pak, kedatangan saya kesini itu bermaksud meminta izin untuk membawa Neng ke Indramayu, untuk menemui orangtua saya".
"Oh begitu, kapan mau berangkatnya?" tanya papa.
"inshaa Allah sabtu depan, minggu pulang lagi ke bandung pak, jadi ya hanya sehari semalam saja kami disana."
Papa kasih aku izin untuk ke Indramayu, akhirnya aku bisa juga bertemu kedua orangtuanya, gugup? pasti! Karena sebelum ini, aku belum pernah ketemu orangtua pacarku, calon mertua hahaha. It will be the first time..
Dan akhirnya tibalah hari itu, hari sabtu keramat. Hari dimana aku akan bertemu kedua orangtuanya mas Saeful untuk pertama kalinya. Pagi-pagi sekali mas Saeful berangkat dari tangerang ke bandung, jam 6 pagi dia sudah sampe di kost-an. Mas Saeful sengaja jemput aku ke bandung, kami berencana pergi ke indramayu naik kereta dari stasiun bandung. Kereta menuju Indramayu berangkat jam 8.10,
setelah sarapan di kost-an kami langsung pergi ke stasiun, dia parkirkan mobilnya di stasiun.
Jujur ini
kali pertama aku naik kereta api, mas saeful malah tertawa terbahak-bahak ketika dia tahu aku belum pernah naik kereta api. Apalagi pas aku bilang kalo aku juga belum pernah naik pesawat, dia tambah kenceng ketawanya. Terus dia berjanji nanti mau ajak aku naik kereta api ke indramayu, dan akhirnya dia penuhi janjinya itu.
Ternyata seperti ini pemandangannya,
kiri kanan kadang yang terlihat sawah, kadang kebun, sampai pemukiman
kumuh pun ada. tapi setelah lewat cikampek, pemandangannya sawah melulu,
seluas mata memandang..
Perjalanan bandung - indramayu ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam.
Tiba di stasiun Jatibarang pukul 11.05 siang. Kami di jemput oleh adiknya mas saeful dan temannya pake motor. Dari stasiun Jatibarang menuju rumah orangtua mas saeful ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Panas banget udaranya, bagi kalian yang mungkin terbiasa tinggal di udara panas pasti gak akan ngaruh, tapi aku terbiasa hidup di udara bandung yang sejuk, tentu itu sangat berpengaruh, apalagi aku gak tahan gerah.
Sesampainya aku di rumah orangtua mas saeful ada ramai orang yang menyambut kami, diantaranya ada ibu beserta bapaknya, ada juga bude nya dan adik serta sepupunya mas saeful yang bernama Naila. Aku dipersilahkan masuk ke rumah. Rumahnya sangat sederhana. Kalo boleh aku bandingkan, masih nyaman rumahku daripada rumahnya mas saeful, maklum belum selesai renovasi, masih dalam tahap finishing. Atapnya belum dipasang plafond. Kita masih bisa lihat rangka penyangga genteng jika melihat ke atas.
Setelah istirahat dan sholat dzuhur, ibunya mas saeful menghampiri aku yang tengah duduk sendiri di ruang tamu, mas saeful setelah diberi kabar kalo anak tetangganya akan menikah esok hari, dia pamit sebentar bersama bapak untuk berkunjung ke tetangganya tersebut, sekedar memenuhi undangan. Awalnya gak ada yang aneh dengan ibunya mas saeful, sampai akhirnya terjadi percakapan aku dengan beliau yang bikin aku down.
"sudah kenal berapa lama sama epul?" tanya ibu dengan logat jawa nya kental.
"kurang lebih tiga bulan ini bu." jawabku
"Oh, epul itu ya, nggak tahu apa yang dicarinya. Padahal ibu udah kenalin ke anak-anaknya temen ibu, ada yang PNS, ada yang kerja di BANK, ada yang pengusaha udah punya mobil dan rumah sendiri, tapi dia nolak aja terus, padahal selevel sama sama lulusan universitas ternama, gak tahu apa yang dicari epul."
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan ibunya mas saeful tersebut.. Baru pertama ketemu aja ibunya sudah memberi kesan yang kurang menerima. Duh mas, sekiranya aku gak selevel kenapa kamu malah pilih aku dan minta aku buat menikah sama kamu.. Aku hanya menatap kosong, mendengar ibunya berujar seperti itu siapapun pasti akan merasa down. Apalagi aku, lulusan universitas ternama juga bukan, apa yang aku bisa banggakan? pekerjaan? cuma seorang karyawan pabrik apa bagusnya? keluarga? orangtua ku bukan keluarga kaya yang punya perusahaan atau pekerjaan yang bergengsi.
Kemudian ibunya undur diri dari hadapanku, katanya beliau mau ke rumah sebelah, rumah budenya mas saeful.
Aku termenung, ternyata apa yang aku bayangkan tentang kedua orangtua mas saeful sungguh jauh berbeda dengan kenyataan. Mereka nggak seperti kedua orangtuaku yang sangat welcome ketika menyambut mas saeful. Sekilas aku teringat kembali cerita mas saeful tentang mantan pacarnya yang seorang perawat di Belanda.
"Mantanku seorang perawat, dulu dia maksa banget mas untuk ikut ke belanda. dia bilang siap menanggung biaya mas di sana sebelum mas dapat kerjaan. Waktu itu gajinya sebagai seorang perawat di belanda itu udah gede, sekitar 40 juta sebulan. Sementara mas disini baru sebagai staff biasa, belum kayak sekarang, punya posisi yang lumayan."
"Terus, kenapa mas gak mau diajak ke Belanda? padahal kan enak, ada yang biayain juga, sebelum mas dapet kerjaan di sana."
"Enggaklah, mas ini kan laki-laki, mosok laki-laki dibiayain perempuan? gini-gini mas masih punya harga diri, kalopun dulu mas mau jadiin dia isteri, mas pasti suruh dia pulang dan tinggal di indonesia. Tapi dia keburu nyaman kerja disana, dia udah gak mau pulang ke indonesia, pulang kerumahnya yang di banten aja setahun sekali, itu pun di paksa untuk nengokin kedua orangtuanya. Beberapa waktu lalu malah sempet bbm-an sama mas, dia bilang bulan desember ini mau pulang ke indonesia, dia ngajakin mas ketemu."
"terus mas mau?"
"ya tergantung, mas di ijinin nggak sama pacaranya mas?! mas udah bilang sama dia, mas mau ketemu sama dia atas seijin pacarnya mas, mas udah bilang kok kalo mas udah punya kamu."
Setelah ibunya mas saeful beranjak keluar rumah, datanglah seorang anak gadis bernama Naila. Dia memperkenalkan diri dengan malu-malu. Anak itu baru kelas dua SMA, dia tinggal sendiri di rumah yang letaknya di belakang rumah orangtua mas saeful. Naila tidak tahu dimana ayahnya sekarang tinggal, naila hanya punya seorang ibu yang tinggal dan bekerja di riyadh sebagai TKW.
Kasian sekali anak seumur Naila, tidak punya kakak pun adik. Harus tinggal sendiri karena tidak punya pilihan, masih untung sih rumahnya dekat sekali dengan rumah ibunya mas saeful, jadi dia ada yang memperhatikan. Beberapa jam sampai di tempat itu, ternyata aku baru tahu kalau penduduk kampung tersebut mayoritas adalah para TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri. Mulai dari Malaysia, Brunei, Singapore, hongkong, taiwan, korea sampai timur tengah.
"Mbak dari Bandung ya?" tanya Naila.
" iya." Jawabku.
"Mbak cantik, orang bandung cantik-cantik ya mbak." Naila menggodaku.
"Naila juga cantik, rajin lagi." ujarku.
"Katanya bandung itu dingin ya mbak? banyak tempat main katanya ya?" tanya naila.
"iya nay, bandung dingin. Makanya mbak dateng ke sini langsung kegerahan hehehe.."
"hehe gitu ya mbak, kalo naila sih udah biasa di tempat panas, jadi nggak kegerahan. paling kalo naila nyuci baru kerasa gerah."
"nyuci? nyuci apa emangnya? kok sampe kegerahan gitu?"
"nyuci baju mbak, kan bajunya banyak."
"banyak? kan naila tinggal sendiri, masa nyuci baju sendiri banyak?"
"kan naila juga cuciin bajunya bude, bulek sama baju-baju isterinya kakak mas saeful yang tinggal di tangerang kalau kebetulan dateng nginep disini."
"hah?! Emangnya mereka nggak nyuci baju sendiri nai? kok sampe kamu yang cuci baju mereka?"
"Enggak mbak, kan sudah tugas naila, kata ibu anggap aja latihan, biar nanti setelah lulus SMA, naila daftar jadi TKW, sama kayak ibu."
"emang Naila gak mau gitu habis lulus SMA, terus lanjut kuliah?"
"Enggak ah, naila kan enggak kayak Yanti. Kalo Yanti kan pinter, udah gitu kalo mau kuliah ada mas saeful yang bisa biayain kuliahnya. kan kalo naila gak ada yang biayain kuliah."
"Kan ada ibu? bukannya ibu kerja, gajinya kan bisa dipake buat naila kuliah?"
"gaji ibu dipake buat bikin rumah di belakang mbak, mbak mau lihat? belum selesai sih, baru rangkanya aja. baru satu kamar aja yang dibuat setengah jadi, buat naila tidur."
"Yanti itu siapa?" tanyaku.
"Adiknya mas saeful yang seumuran sama naila, orangnya cerdas sama kayak mas saeful. Bude bilang, kalo naila gak pantes kuliah, yang pantes itu yanti. karena yanti itu cerdas. Yanti malah lompat kelas lho mbak, sekarang dia udah kelas tiga SMA, padahal masuk SD nya bareng sama Naila."
"Yanti yang lompat kelas apa Naila yang tinggal kelas?" Aku menggoda Naila.
"iihhh demi Alloh mbak, naila gak pernah tinggal kelas, paling cuma masuk 15 besar aja."
aku tertawa dengar pembalaan naila dengan polosnya.
Mendengar kata-kata naila kok ya aku jadi prihatin. Naila, mungkin dia juga punya keinginan yang sama kayak yanti, kuliah setelah lulus SMA. Tapi keadaan tidak memungkinkan sepertinya, dan juga tidak ada dukungan dari keluarga, mengingat ibunya sendiri tinggal jauh dari indonesia. Sementara keluarga mas saeful juga sepertinya tidak memberikan dukungan yang berarti untuk naila.
"Terus sekarang yanti kemana? belum pulang sekolah? "
"Yanti kost mbak, di dekat sekolahnya. Soalnya kalo berangkat dari sini lumayan agak jauh jaraknya. "
"heumm gitu ya.. terus pulangnya seminggu sekali? "
"iya, biasanya gitu."
"berarti hari ini pulang dong?"
"gak tahu tuh, biasanya kalo sabtu pulangnya pas ashar. "
Aku bosan diam dirumah mas saeful, teman ngobrolku cuma naila saja. Akhirnya aku dan naila pergi ke belakang, melihat-lihat rumahnya naila yang belum selesai. Lantainya masih tanah, temboknya belum dilapisin pasir dan semen sehingga yang bisa dilihat hanyalah tembok dengan tumpukan batu bata merah yang tersusun rapi. Aku masuk ke dalam kamar naila, mashaa Allah, jadi gadis kecil itu hanya tidur diatas sebuah dipan yang dilapisi oleh kasur tipis. belum ada kaca di jendelanya, sehingga jendelanya hanya ditutup oleh selembar triplex. Disudut kamar ada buntelan kain sprei, rupanya itu baju-baju naila yang belum di sterika.
Saat aku sedang memperhatikan rumah naila, tiba-tiba mas saeful menghampiri..
"Neng?! pantesan dirumah nggak ada, rupanya diculik naila ke sini toh.."
"yee enggak diculik kok mas, tadi mbaknya bosen dirumah, terus naila ajak ke sini." jawab naila.
"hehe iya, tadi aku bosan cuma duduk diem dirumah, ibu tadi pamit pergi ke rumah bude katanya, jadi ya cuma naila yang mau nemenin aku."
"o'ya? kirain sama ibu disini."
"enggak."
"udah yuk ke rumah lagi, ada bapak tuh mau ngobrol."
Aku beranjak mengikuti langkah mas saeful menuju rumah, sesampainya disana sudah ada bapak yang sedang duduk berdua sama ibu.
"aahh ini dia, sini neng kita ngobrol-ngobrol sambil makan buah mangga. Kebetulan barusan metik beberapa buah di kebun."
"ohh bapak punya kebun mangga?" tanyaku dengan nada antusias.
"ah cuma beberapa pohon kok, ndak banyak, cuma untuk konsumsi sendiri aja. Besok bawa ya buat oleh-oleh papa sama mama di bandung."
"wah jangan pak, nanti malah ngerepotin."
"oh ya ndak repot, bawa aja, sekalian sampaiken salam bapak buat papa mama ya."
"iya pak, terimakasih."
"Jadi gini neng, mas mu ini udah bilang soal rencana kalian menikah itu. Bapak sama ibu ya seneng, akhirnya si mas ada keberanian ngajak cewek nikah, setelah sebelumnya sudah dilangkahi adiknya nikah."
Aku melirik mas saeful dengan tatapan penuh tanya. (Hah?! apa?? mas saeful pernah dilangkahi adiknya menikah? kok dia nggak cerita?)
"Cuma begini, kalau acaranya dibulan oktober kayaknya gak bisa. Soalnya kakaknya mas saeful udah duluan melamar calonnya, dan acara nikahannya akan digelar di bulan November tahun ini, dan menurut adat kan gak boleh ya dalam satu tahun ada dua pernikahan. Jadi gimana kalau acaranya neng sm epul diundur, ya minimal sampe udah pindah tahun gitu. Kan 2015 sebentar lagi, jadi gak terlalu lama nunggu." giliran ibunya yang menjelaskan.
"Sebenarnya kakaknya mas saeful yang mau nikah tuh adalah pernikahannya yang kedua kali. Dia itu duda, cerai sama isterinya. Karena isterinya itu disuruh cari duit ke arab sana malah punya anak disana!" setengah emosi bapak bilang begitu.
"Astagfirulloh." Aku terkaget-kaget denger bapak bilang gitu. (apa ini? isterinya disuruh cari duit? kenapa bukan suaminya aja yang cari duit, bukankah itu memang sudah tugas dan kewajibannya laki-laki, untuk cari nafkah dan menafkahi? kenapa harus isterinya yang disuruh cari duit? nyari duitnya jauh lagi sampe ke arab, terus kerjanya itu cowok ngapain dong?) kembali aku menatap mas saeful dengan tatapan bertanya-tanya, dan setengah gak percaya apa yang dibilang bapak barusan).
Adzan ashar berkumandang, bapak pamit pergi ke musholla. Ibu kembali ke rumah bude.
"Mas gak ikut sekalian ke mushollah bareng bapak?"
"nanti aja neng, masih capek."
"capek? emang habis ngapain sih sampe capek gitu?"
"kamu emang gak capek neng? seharian jalan dari bandung sampe sini?"
"enggak, biasa aja. Aku malah excited, kan baru kali ini aku naik kereta api."
"hahaha dasar kamu!"
"ya udah, aku mau ashar dulu. atau bareng aja yuk, kamu imamin aku sholat?"
"kamu aja duluan neng, nanti mas mau rebahan dulu sebentar."
"yo weis,, tapi disini aja ya, jangan kemana-mana lagi, ntar aku gak ada temen ngobrol lagi. Untung tadi ada naila."
"iya iya.. eh neng, kamu nanti tidur di kamar Yanti aja, kosong kok, sekalian aja nanti bawa tasnya ke situ, sholat di situ aja."
"Yanti emang biasa pulang sore ya?"
"dia gak pulang hari ini, lagi ada kegiatan katanya. Jadi kamarnya kamu pake aja, kosong kok. "
"Oke!" jawabku sambil lalu.
Ketika aku sholat, mas saeful masuk ke kamar Yanti, dia kemudian rebahan di tempat tidurnya yanti. Setelah selesai sholat, aku memandangi wajahnya mas saeful yang pura-pura merem. Kemudian dia tersenyum karena sadar sedang dipandangi olehku.
"kamu kenapa sih, mandangnya gitu amat? terpesona sama kegantenganku, iya?" Kata dia menggoda.
"ngarang! aku cuma heran aja."
"heran kenapa?"
"mas kenapa gak cerita soal yang dibilang bapak tadi?"
"cerita apa cintaku?"
"itu yang soal adik mas udah pernah nikah, terus soal kakak kamu yang mau menikah untuk yang kedua kalinya."
"oh, itu.. hmmm ,, gimana mulainya ya neng, coba bentar mas mau rangkai kata-kata dulu, kasih waktu mas buat mikir."
"ya ampun, tinggal cerita gitu doang pake mesti merangkai kata-kata dulu, kamu tuh bukan pujangga, dan aku juga nggak minta dibuatin karya sastra, aku cuma mau kamu cerita, apa susahnya?"
"oke oke,, jadi begini, mas ini anak ketiga dari 6 bersaudara. Kakakku yang pertama yang bapak cerita tadi, yang mau nikah di november ini, kakakku yang kedua yang tinggal di Tangerang sudah berkeluarga punya dua anak. Adik mas persis dibawah mas yang melangkahi mas nikah, terus yang jemput kita tadi di stasiun dan yang paling bontot yanti, cewek satu-satunya. Kamu tahu nggak menurut data statistik angka perceraian di indramayu itu adalah yang tertiggi se indonesia?"
"hah?! masa sih?"
"iya, adikku yang melangkahi aku itu, dia juga bercerai. Kenapa aku nggak cerita sama kamu, karena aku gak mau kamu berpikiran yang enggak-enggak tentang aku, jujur aku takut ini akan mempengaruhi hubungan kita, tadinya sih kupikir gitu. Nah sekarang setelah kamu tahu, kira-kira penilaian kamu terhadap mas gimana?"
"gak gimana-gimana, biasa aja. Karena kalo menurutku, gagal atau enggaknya suatu hubungan atau ikatan pernikahan bukan karena angka statistik atau dari daerah mana dia berasal, tapi melainkan dari pribadinya sendiri, bisa nggak dia membuat hubungan itu menjadi langgeng sampe kakek nenek."
Mas saeful tersenyum.
"Aku kasih tahu ya sama kamu neng, satu kampung ini aja, hampir setiap rumah itu ada orang yang statusnya janda/duda cerai, dan seperti baru kamu tahu juga bahwa memang di kampungku ini mayoritas adalah TKI dan TKW, seperti halnya mantan-mantan iparku. Seperti yang bapak bilang tadi, kakak iparku memang punya anak neng di sana, sementara disini mereka nggak punya anak. Mungkin karena berpisah jauh, dan kita juga gak bisa salahin orangnya, kebutuhan biologis apalagi setelah menikah kan gak mungkin setiap orang bisa tahan. apalagi ini kontraknya lama, minimal dua tahun."
"mas percaya kalo iparnya mas disana selingkuh?" tanyaku.
"ya nggak tahu, cuma kabarnya dia punya anak disana. Makanya langsung diceraikan sama kakakku."
"gimana kalo ternyata dia korban paksaan, mas? gimana kalo ternyata mantan isterinya kakakmu itu jadi korban pelecehan seksual disana? seperti yang sering kita dengar bahwa TKW di arab banyak yang jadi korban pelecehan seksual majikannya sendiri?"
(Mas Saeful terdiam dengar pertanyaanku.)
"kita kan gak tahu keadaan disana kan mas, jadi seharusnya kita gak boleh suudzon. dan yang aku gak habis pikir, kenapa mesti isterinya yang cari nafkah? kenapa bukan kakanya mas? kan itu bukannya tugas dan kewajiban laki-laki untuk mencari nafkah?"
mas saeful kemudian kembali merbahkan tubuhnya..
"Kakaku itu dulu baru dua tahun menikah dia kena PHK, coba nyari kerja kesana kemari nggak dapet-dapet, sementara kan dapur mesti ngebul, bapak bilang mumpung belum punya anak, kenapa gak berangkat aja jadi TKI, tapi kakaku itu nggak punya keahlian, umurnya pun udah gak masuk kriteria, nah isterinya mulai deh mengeluh soal biaya sehari-hari yang memang sering di bantuin keluarganya, keluarga mas juga sering kasih untuk mereka. sampe akhirnya kakak mas nyuruh isterinya jadi TKW, tapi itupun gak ada paksaan. Cuma iseng aja nyuruh, kamu mau gak jadi TKW, tuh temen-temen kamu banyak sekarang yang udah punya rumah hasil kerja di korea dan lain sebagainya, dan akhirnya isterinya pun menyetujui untuk jadi TKW, daftarlah dia, sampai ditempatkan di riyadh, dan akhirnya kejadian lah dia punya anak di sana, baru 18 bulan dia disana waktu dia melahirkan."
Aku membisu cukup lama..
"heh,, neng, kok ngelamun?"
"Terus, adikmu kenapa cerai? kelahiran tahun berapa?"
"umurnya sih sebaya kamu neng, cuma dia dipaksa cerai karena isterinya gak mau disuruh jadi TKW, bapaknya keberatan, akhirnya isteri adikku dijemput pulang bapaknya. Ya memang, adikku itu cuma kerja serabutan neng, cuma lulusan SMP, tapi sekarang lagi ambil paket C. Kasian juga sebenarnya, pilihannya dulu, kalo dia lanjut sekolah, maka mas putus kuliah. Dia ngalah, karena dia sendiri udah gak punya keinginan untuk meneruskan pendidikan. Yang kuliah di keluarga mas cuma mas seorang neng, dulu waktu SMP mas ini salah satu Siswa Teladan se-Indramayu. Mungkin itu yang bikin ibu terus mendorong mas untuk kuliah, dan alhamdulillah mas bisa masuk UI. Hasil kerja keras ibu bapak dan pengorbanan kakak dan adikku."
"Pantas saja ibu kamu ekspektasinya tinggi sekali soal kriteria calon isteri buatmu."
Mas saeful terperanjat, kemudian dia duduk sejajar denganku.
"Maksud kamu apa? Emang ibu tadi ngomong apa?"
"Ibu tadi cerita, katanya calon kamu oke-oke, ada yang kerja di Bank, ada yang pengusaha udah punya mobil dan rumah, ada yang PNS, ada juga yang lulusan Universitas ternama, kata ibu "SELEVEL sama kamu", kalo dibandingkan dengan mereka, apalah aku ini mas. aku gak punya sesuatu yang bisa di banggakan. lagian, kok kamu mau sih sama aku?"
"neng, jangan gitu ah..!"
"mantan kamu yang dulu, yang perawat itu, apa dulu ibu tahu tentang dia?" tanyaku.
"ibu tahu, malah dulu sering telponan sama ibu, tapi belum sempat mas ajak ketemu ibu. cuma ngobrol ditelpon doang."
Dasar mas saeful itu, dia itu gak pernah peka, gak tahu apa dia kalo aku cemburu?
"pantas aja ya, kalau dibandingkan dengan mereka, aku sih gak ada apa-apanya."
"Denger
ya cintaku, kamu gak usah dengerin apa yang ibuku bilang. mungkin ibuku
cemburu, karena anak kebanggaannya sudah ada yang punya." dia berkata sambil memencet hidungku.
"ibuku memang begitu tabiatnya, judes. Malah sama tetangga sebelah juga gak akur, beberapa minggu kemaren mas sempet ketemu sama anaknya tetangga sebelah dijakarta, dia minta tolong sama mas untuk mendamaikan ibu sama tetangga sebelah itu, mereka katanya ada konflik lagi, mas akhirnya pulang, terus mas tanya ibu baik-baik, ada masalah apa sebenarnya, kenapa sampai gak bisa akur sama tetangga sebelah? masalahnya simple sih, tetanggaku pasang pagar, katanya melewati batas tanah pekarangan rumah ini. Tapi menurut mas sih gak gitu, gak tahu mungkin mas nya gak tahu batas-batas tanah sini. Tapi ya mas bilang sama ibu untuk berhenti gak usah berantem lagi, kan malu sama tetangga sendiri, tetangga itu kan ibaratnya saudara terdekat kita, kalo sama tetangga gak akur nanti kalo ada apa-apa mau minta tolong siapa."
"Mas mau mandi dulu sekalian ashar, habis ashar mau ke rumah mas Alex, mau ikut nggak neng?"
"Mas Alex itu siapa?"
"itu yang punya toko bahan-bahan bangunan, mas mau bayar material yang kemaren buat renovasi rumah, sekalian beli plafond, jadi biar cepet selesai ini rumahnya."
"Mas yang biayain semua?"
"Sebagian besar, sebagian lagi dari kakaknya mas yang di tangerang, jadi gimana? ikut nggak?"
"ikut!"
"ikut kemana? kamar mandi?"
"yee, maunya!! Ikut ke tempat mas Alex lah."
"ya udah, nanti sekalian pulangnya kita mampir dulu ke pasar malam ya, kata naila ada di dekat balai desa."
"oke" aku jawab dengan nada kurang antusias.
"neng,, apa yang ibuku bilang tadi, jangan dipikirin ya?!." ujar mas saeful sebelum dia berlalu ke kamar mandi, meninggalkan aku yang duduk mematung diatas sajadah.
Sore itu kami pergi ke tempat mas Alex, setelah selesai urusannya mas Saeful mengajakku makan mie ayam langganannya dulu. Tukang mie ayam itu namanya mas Yanto.
"Pie kabare mas?" mas saeful menepuk pundak tukang mie ayam itu.
"Wuiihhhh,, ada pak bos toh, lagi mudik sampeyan? apik mas.. sampean apa kabar nya?"
"Alhamdulillah baik, iya nih mulih bentar mas sambil bawa ini nih." matanya mas saeful melirikku.
Mas Yanto melirik aku dan bertanya sama mas saeful, "Sopo iki? calon mu toh?"
"kenalin neng, ini namanya mas Yanto, beliau ini pedagang ulet, saking uletnya sekarang udah jadi bos, warung baksonya aja udah punya beberapa cabang."
"weee bisa aja, panjenengan iki lho yang udah dadi bos. oalah, ayu tenan bojomu mas."
Aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka, karena bahasa mereka gak begitu aku mengerti.
"o iya, pesen dua yo yang spesial.."
"siap pak boss.."
Sepulang dari warung bakso mas yanto, kami berdua mampir dulu ke pasar malam, hanya berkeliling sebentar dan membeli kue pancong buat di rumah.
"Kalo di bandung ini namanya kue Bandros"
"oya? disini namanya kue pancong, ibu suka banget neng sama kue pancong ini."
"tapi rasanya masih lebih enak yang di bandung, yang di bandung nggak bantet kayak gini, ini sih keras kue nya, kelapanya juga dikit."
"ya kalo dibandingkan dengan yang di bandung pastilah kalah, bandung kan tempatnya wisata kuliner, jadi wajar kalo makanannya enak-enak, kalo indramayu kan kota nya mangga."
"bukan, kota TKI/TKW." pungkasku.
mas saeful merangkulku dan mencubit pipiku gemas.
Setelah pesanan kue pancong kami jadi, kami pun berlalu pulang ke rumah mas saeful. Sewaktu di motor dia kembali melirik ke bungkus plastik yang isinya kue pancong tersebut.
"si bapak penjual kue pancong itu gak tahu apa ya kalo makanan itu gak boleh langsung dibungkus pake keresek warna hitam, ini kan karsinogen, harusnya dikasih plastik yang bening dulu gitu, yang khusus buat makanan." ujarnya.
"ya ampun mas, itu si bapak tukang kue pancong kalo dia pinter, dia gak akan jadi tukang kue pancong kali, mungkin dia jadi pejabat, atau boss pembuat plastik kemasan. Ya udah sih, di maklum aja, namanya juga orang dusun, gak banyak tahu, mungkin dia juga gak tahu apa itu karsinogen."
"iya ya, kadang-kadang kamu pinter juga neng."
"kok kadang-kadang sih? udah dari lahir kali." aku bersahut kesal, sementara dia hanya ketawa.
Malam harinya rumah mas saeful kedatangan tamu, mereka teman-temannya mas saeful sewaktu sekolah dulu. Rumahnya pun berdekatan, mereka mendengar kepulangan mas saeful sehingga menyempatkan waktu untuk bertemu dan melepas rindu. Mas saeful mengenalkanku kepada teman-temannya itu, kami sempat ngobrol sebentar sampai akhirnya aku undur diri ke ruang sebelah, bukan maksud menghindar dari mereka hanya saja aku kesulitan memahami bahasa jawa. Aku sama sekali nggak ngerti bahasa jawa, sementara mereka gak fasih berbahasa indonesia.
Diruang tengah ada naila yang sedang memijat ibunya mas saeful. Melihat aku masuk, ibunya mas saeful meminta naila untuk berhenti memijatnya, beliau bertanya apakah aku sudah makan, dan menyuruhku makan. Kemudian aku jawab nanti saja bareng sama mas saeful. Sepertinya ibunya benar-benar gak suka sama aku, baru sebentar aku diruangan tengah itu, ibu masuk ke kamar. Tinggalah aku berdua dan naila, lagi. Kami nonton TV berdua, sesekali bercanda. Naila itu anak yang menyenangkan, dia itu periang sekali, meskipun jauh dari orangtua, tapi sepertinya itu gak jadi beban pikirannya. Aku penasaran, seperti apakah yanti? apakah dia seperti Naila juga? katanya Yanti cerdas, apa Yanti juga ramah seperti Naila? atau malah judes kayak ibu?
"Besok Yanti pulang mbak, tadi bude udah telepon suruh Yanti pulang, kenalan sama mbak."
"o ya?"
"iya."
Hemm.. sepertinya kita akan segera tahu tentang sosok yanti adik kesayangannya mas saeful, semoga saja dia baik seperti Naila, atau bahkan lebih baik dari Naila..